Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Ahli Endokrinologi: Tidur Teratur dan Berat Badan Ideal Kunci Hormon Tumbuh Kembang Anak

2026-07-22 17:14 WIB · aindari · 👁 806 dibaca

Jam tidur yang konsisten dan pencegahan obesitas menjadi dua faktor utama yang menentukan keseimbangan hormon pertumbuhan anak, terutama saat memasuki masa pubertas.

Keseimbangan hormon pada anak bukan sekadar soal genetik atau asupan gizi — pola tidur dan berat badan ternyata memainkan peran yang tidak kalah krusial. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, spesialis anak subspesialis endokrinologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam sebuah temu media yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu.

Menurut Aman, hormon pertumbuhan atau growth hormone (GH) mengalami lonjakan produksi justru saat anak tertidur, bukan ketika beraktivitas. Kondisi ini membuat kualitas dan keteraturan tidur menjadi sangat penting, terutama ketika anak memasuki fase pubertas. Ia menegaskan bahwa meski hormon pertumbuhan tetap berproduksi tanpa memandang jam tidur anak, orang tua sebaiknya tidak menyia-nyiakan waktu emas tersebut dengan membiarkan anak begadang — termasuk di masa liburan sekalipun.

Aman menggunakan istilah yang cukup tegas untuk menggambarkan posisinya: tidur anak tidak boleh mendapat "diskon". Penetapan jadwal tidur yang konsisten, menurutnya, bukan sekadar kebiasaan baik, melainkan investasi jangka panjang agar anak tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat.

Selain tidur, berat badan anak juga menjadi perhatian serius. Aman menjelaskan bahwa gaya hidup sedentari atau kurang gerak tidak secara langsung menekan produksi hormon pertumbuhan, namun membuka peluang besar bagi anak untuk mengalami kelebihan berat badan. Konsumsi makanan tinggi gula, misalnya, dapat memicu kenaikan berat badan metabolik yang dalam kondisi tertentu justru mempercepat datangnya pubertas lebih awal dari seharusnya.

Dampak obesitas pada anak tidak berhenti di situ. Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak UI yang juga berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Pondok Indah ini menyebutkan bahwa obesitas berpotensi mengganggu kesehatan reproduksi dan kesuburan, baik pada anak perempuan maupun laki-laki. Risiko sindrom metabolik seperti hipertensi dan diabetes juga mengintai anak-anak yang mengalami kelebihan berat badan sejak dini.

Aman mengingatkan orang tua agar tidak terjebak pada anggapan bahwa memberi makan banyak selalu berarti baik. Makanan bergizi sekalipun, bila diberikan secara berlebihan hingga menyebabkan obesitas, justru membawa risiko kesehatan yang serius bagi anak di masa depan.

Tag: hormon pertumbuhan, tidur anak, obesitas anak, pubertas, tumbuh kembang