Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Merawat Lansia Butuh Perhatian Khusus: Faktor Internal dan Lingkungan Sama Pentingnya

2026-07-25 17:10 WIB · aindari · 👁 1rb dibaca

Dokter spesialis penyakit dalam mengingatkan bahwa pendampingan lansia memerlukan pendekatan berbeda dari merawat anak-anak atau pasien non-lansia, dengan memperhatikan kondisi kesehatan sekaligus keamanan lingkungan tempat tinggal.

Populasi lanjut usia di Indonesia terus bertambah, dan hal itu menuntut perhatian lebih serius terhadap cara merawat serta mendampingi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Muhadi, Sp.PD, K-Kv, FINASIM, M.Epid, menekankan bahwa lansia memiliki hak penuh atas kehidupan yang layak, termasuk dalam aspek kesehatan.

Muhadi menjelaskan bahwa situasi darurat pada lansia dapat muncul akibat dua kelompok pemicu, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Dari sisi internal, kondisi kesehatan lansia itu sendiri menjadi perhatian utama. Penyakit yang sudah diderita sebelumnya bisa sewaktu-waktu memburuk secara tiba-tiba dan berujung pada keadaan gawat darurat.

Dari sisi eksternal, lingkungan tempat tinggal lansia turut memegang peran penting. Muhadi memberi contoh bahwa pencahayaan yang buruk di dalam rumah atau lantai yang licin dapat meningkatkan risiko lansia terjatuh. Oleh karena itu, orang-orang yang tinggal bersama atau mendampingi lansia perlu secara aktif mengevaluasi dan memperbaiki kedua faktor tersebut agar kondisi darurat dapat dicegah.

Hal lain yang ditekankan Muhadi adalah bahwa pola pengasuhan lansia tidak bisa disamakan dengan merawat anak-anak maupun merawat orang sakit yang berusia lebih muda. Lansia memiliki kebutuhan spesifik yang menuntut pendekatan berbeda, baik secara medis maupun psikologis.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Badan Pusat Statistik tahun 2025, jumlah penduduk lansia di Indonesia — mereka yang berusia di atas 60 tahun — telah mencapai sekitar 34 juta jiwa. Angka ini setara dengan hampir 12 persen dari total populasi nasional, sebuah proporsi yang cukup signifikan dan terus meningkat.

Merespons kondisi demografis tersebut, pemerintah terus menggalakkan program-program promotif dan preventif guna menekan angka penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di kalangan lansia. Salah satu upaya konkret adalah program cek kesehatan gratis (CKG) yang sudah dimanfaatkan oleh sekitar 6,8 juta lansia sebagai sarana deteksi dini penyakit.

Dengan jumlah lansia yang terus bertambah, kesadaran keluarga dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman serta memberikan pendampingan yang tepat menjadi semakin krusial. Perhatian terhadap faktor internal berupa kondisi kesehatan dan faktor eksternal berupa keamanan lingkungan perlu berjalan beriringan demi menjaga kualitas hidup para lansia di Indonesia.

Tag: kesehatan lansia, PAPDI, kegawatdaruratan lansia, cek kesehatan gratis, penduduk lanjut usia