Lonjakan Harga Minyak Dunia Hampir 10 Persen dalam Sepekan, Pernah Menyentuh 100 Dolar AS per Barel
2026-07-26 17:06 WIB · aindari · 👁 718 dibaca

Ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran gangguan pasokan di Laut Merah mendorong harga minyak mentah Brent melonjak tajam hingga sempat menembus level psikologis 100 dolar AS per barel.
Harga minyak mentah acuan global Brent mengalami kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir, dengan lonjakan mendekati 10 persen. Kenaikan ini bahkan sempat membawa harga minyak menembus angka 100 dolar AS per barel, sebuah level yang menjadi perhatian serius pelaku pasar energi di seluruh dunia.
Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang memicu sentimen kenaikan harga. Kekhawatiran terhadap potensi gangguan jalur pasokan minyak di Laut Merah turut memperburuk situasi. Laut Merah merupakan salah satu jalur pelayaran strategis bagi distribusi minyak mentah global, sehingga setiap ancaman terhadap keamanan di wilayah tersebut langsung berdampak pada persepsi risiko pasokan di pasar.
Fluktuasi harga minyak yang tajam akibat ketegangan geopolitik ini berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan beban belanja subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk bahan bakar minyak bersubsidi. Di sisi lain, Indonesia sebagai negara penghasil minyak juga bisa mendapat tambahan penerimaan dari sektor migas, meski volume produksinya sudah jauh menurun dibanding dekade lalu.
Menanggapi situasi ini, Wakil Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan jaminan bahwa APBN tetap dalam kondisi aman. Ia juga memastikan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan meskipun harga minyak dunia sempat menyentuh 100 dolar AS per barel. Pernyataan ini penting untuk meredam kekhawatiran publik terhadap kemungkinan lonjakan harga bahan bakar di tingkat konsumen.
Meski demikian, pelaku pasar dan analis tetap mencermati perkembangan di Timur Tengah secara saksama. Jika konflik terus berlanjut atau meluas, risiko gangguan pasokan yang lebih besar bisa mendorong harga minyak bertahan di level tinggi atau bahkan naik lebih lanjut. Kondisi ini akan menjadi tantangan bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, dalam menjaga stabilitas fiskal dan daya beli masyarakat.
Dinamika harga minyak dunia pekan ini menjadi pengingat betapa rentannya pasar energi global terhadap gejolak geopolitik. Pemerintah Indonesia dihadapkan pada kebutuhan untuk terus menyiapkan strategi mitigasi agar dampak kenaikan harga minyak tidak menggerus ketahanan anggaran negara maupun kesejahteraan rakyat.
Tag: harga minyak dunia, Brent, konflik Timur Tengah, APBN, BBM subsidi