Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Obat Lama Terbukti Perlambat Penyakit Otak Fatal Khusus pada Pasien Perempuan

2026-07-27 17:05 WIB · aindari · 👁 526 dibaca

Analisis ulang uji klinis internasional mengungkap bahwa Davunetide memberikan manfaat signifikan bagi pasien perempuan dengan kelumpuhan supranuklear progresif, sementara pasien pria tidak menunjukkan respons serupa.

Sebuah temuan mengejutkan datang dari para peneliti Israel: obat yang sebelumnya dianggap kurang efektif ternyata mampu memperlambat perjalanan penyakit otak langka dan mematikan — namun hanya pada pasien perempuan. Hasil ini dipublikasikan dalam jurnal Molecular Psychiatry yang diterbitkan oleh Nature.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Universitas Tel Aviv. Alih-alih menjalankan uji klinis baru, mereka mengkaji ulang data yang sudah ada dari sebuah uji klinis internasional berskala besar yang melibatkan lebih dari 300 pasien. Seluruh peserta menderita kelumpuhan supranuklear progresif, kondisi neurologis langka yang tidak dapat disembuhkan dan menyerang kemampuan bergerak, menjaga keseimbangan, serta fungsi kognitif penderitanya.

Obat yang diteliti, Davunetide, dirancang untuk menargetkan kelompok penyakit yang dikenal sebagai tauopati. Pada evaluasi awal, obat ini dinilai aman tetapi tidak cukup efektif sehingga tidak dianggap sebagai terobosan. Namun, analisis terbaru mengubah kesimpulan itu secara signifikan. Ketika data pasien dipilah berdasarkan jenis kelamin, gambaran yang muncul jauh berbeda dari sebelumnya.

Pasien perempuan yang mendapat terapi Davunetide memperlihatkan perlambatan perkembangan penyakit yang bermakna. Mereka lebih mampu mempertahankan fungsi-fungsi dasar kehidupan sehari-hari, mulai dari keseimbangan tubuh dan koordinasi tangan, hingga aktivitas rutin seperti menggunakan alat makan, mengancingkan baju, dan mandi secara mandiri. Di sisi kognitif, kelompok perempuan ini juga mencatat hasil lebih baik dalam tes memori, kemampuan berbahasa, dan fungsi berpikir lainnya. Sementara itu, pada pasien pria, manfaat serupa tidak ditemukan.

Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini membuka peluang penting bagi pengembangan terapi penyakit otak secara lebih luas, termasuk Alzheimer dan gangguan neurodegeneratif terkait. Lebih dari itu, studi ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk mempertimbangkan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan dalam merancang dan mengevaluasi pengobatan — sebuah aspek yang selama ini kerap diabaikan dalam uji klinis konvensional.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa data agregat dalam penelitian medis bisa menyembunyikan pola penting. Dengan memisahkan analisis berdasarkan jenis kelamin, para ilmuwan berhasil menyelamatkan potensi sebuah obat yang hampir dikesampingkan, sekaligus membuka jalur baru dalam pendekatan pengobatan yang lebih personal dan berbasis biologi.

Tag: Davunetide, kelumpuhan supranuklear progresif, tauopati, neurologi, kesehatan perempuan