Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Resistensi Antibiotik pada Anak Meningkat, Studi Global Angkat Alarm

2026-07-29 17:06 WIB · aindari · 👁 420 dibaca

Sebuah studi global mencatat tren mengkhawatirkan peningkatan resistensi antibiotik pada anak-anak, mempertegas ancaman yang oleh para ahli disebut sebagai 'pandemi senyap'.

Resistensi antimikroba (AMR) kini bukan lagi ancaman masa depan yang samar — tanda-tandanya sudah terlihat nyata pada kelompok usia paling rentan. Sebuah studi berskala global merekam tren peningkatan resistensi antibiotik yang terjadi pada anak-anak, temuan yang mempertegas kekhawatiran komunitas kesehatan internasional terhadap krisis yang kerap disebut pandemi senyap.

Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri bermutasi dan tidak lagi merespons obat yang sebelumnya efektif membunuhnya. Pada anak-anak, kondisi ini sangat berbahaya karena pilihan terapi alternatif lebih terbatas dibanding pasien dewasa, dan infeksi yang tidak tertangani dapat berkembang cepat menjadi komplikasi serius.

Ancaman ini bukan tanpa angka. Proyeksi yang beredar di kalangan peneliti dan lembaga kesehatan memperkirakan AMR berpotensi menyebabkan hingga 10 juta kematian per tahun pada 2050 apabila tidak ada langkah penanggulangan yang signifikan. Angka itu menempatkan AMR setara — bahkan melampaui — beban kematian akibat kanker saat ini.

Merespons tren ini, sejumlah pihak mulai memperkuat komitmen terhadap inovasi di bidang kesehatan. Pfizer, salah satu perusahaan farmasi terbesar dunia, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan inovasi untuk menghadapi resistensi antibiotik. Perusahaan itu juga ikut memperingatkan bahaya AMR sebagai ancaman kesehatan global yang memerlukan respons lintas sektor.

Di sisi lain, para pemangku kepentingan menekankan bahwa akses terhadap inovasi kesehatan menjadi kunci dalam menghadapi AMR. Tanpa distribusi yang merata — terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah — teknologi baru sekalipun tidak akan mampu memutus rantai penyebaran bakteri resisten secara global.

Dari ranah riset domestik, Universitas Airlangga turut berkontribusi dengan mengembangkan pendekatan berbasis teknologi laser dioda dan ozon sebagai alternatif untuk melawan bakteri yang kebal antibiotik. Inovasi semacam ini mencerminkan upaya ilmuwan lokal dalam mencari solusi di luar jalur farmasi konvensional.

Para ahli sepakat bahwa penanganan AMR membutuhkan strategi berlapis: penggunaan antibiotik yang lebih bijak dan terukur, percepatan riset vaksin serta terapi baru, hingga penguatan sistem surveilans global — termasuk pemantauan khusus pada populasi anak yang datanya kini semakin menunjukkan sinyal mengkhawatirkan.

Tag: resistensi antibiotik, AMR, kesehatan anak, pandemi senyap, inovasi kesehatan