BGN Prioritaskan Dapur MBG di Wilayah dengan Stunting Tertinggi, 92 Kabupaten Masuk Kategori Sangat Tinggi
2026-07-29 17:11 WIB · aindari · 👁 894 dibaca

Badan Gizi Nasional memetakan ratusan daerah berdasarkan tingkat stunting untuk menentukan lokasi prioritas pembangunan dan aktivasi dapur program makan bergizi gratis.
Badan Gizi Nasional (BGN) menjadikan tingkat stunting sebagai penentu utama dalam memperluas jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala BGN Sudaryono mengungkapkan hal ini dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Data dari Kementerian Kesehatan menjadi landasan kebijakan tersebut. Menurut data itu, 40 persen penduduk Indonesia yang berada di kelompok ekonomi paling bawah — kuintil 1 dan 2 — hidup di bawah ambang kesehatan karena kekurangan kalori dan protein. Kondisi ini menempatkan sekitar 116 juta orang dalam kondisi kurang makan, di mana asupan harian mereka tidak mencukupi kebutuhan aktivitas sehari-hari.
Dari peta stunting nasional yang dimiliki BGN, terdapat 182 kabupaten/kota dengan status stunting sedang, 220 kabupaten/kota dengan status tinggi, dan 92 kabupaten/kota masuk kategori sangat tinggi. Sudaryono menyebut peta tersebut dapat diklik hingga ke level kecamatan dan desa untuk memperoleh data yang lebih rinci. Daerah-daerah dengan angka stunting tinggi dan sangat tinggi inilah yang akan menjadi sasaran intervensi pertama.
Strategi yang diterapkan BGN bersifat dua jalur: mengaktifkan dapur MBG yang sudah ada di wilayah prioritas, sekaligus membangun SPPG baru di lokasi yang belum terlayani. Dapur yang sudah berjalan dengan baik akan terus dipertahankan, sementara yang bermasalah akan diperbaiki secara paralel.
Untuk memastikan penyaluran tepat sasaran, pemerintah mengandalkan data berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang mencakup nama dan alamat penerima. Data ini akan diintegrasikan lintas lembaga sehingga pemerintah dapat mengetahui apakah seorang balita, anak sekolah, atau ibu hamil sudah menerima MBG, bagaimana kondisi kesehatannya, dan apakah kondisi tersebut membaik setelah mendapat bantuan gizi.
Pemantauan lanjutan dilakukan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan bersama Kementerian Kesehatan. BGN mengusulkan agar pemeriksaan kesehatan bagi balita, ibu hamil, dan anak sekolah dilakukan lebih dari sekali, sehingga dampak program dapat terukur secara berkelanjutan. Sudaryono menegaskan bahwa program ini dirancang agar memiliki output, outcome, sekaligus dampak jangka panjang — dari makanan bergizi yang tersalurkan hingga berkurangnya angka stunting dan membaiknya kondisi kesehatan anak-anak penerima manfaat.
Tag: stunting, makan bergizi gratis, BGN, gizi nasional, SPPG