Investasi Energi Bersih Lampaui Fosil, Indonesia Diminta Segera Bangun Industri Hijau
2026-07-30 06:07 WIB · aindari · 👁 801 dibaca

Pergeseran global investasi energi menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri hijau domestik, bukan sekadar bergantung pada impor.
Investasi energi bersih dunia telah melampaui investasi bahan bakar fosil dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Tren ini dinilai sebagai momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat basis industri hijau di dalam negeri, alih-alih hanya menjadi pasar bagi produk energi terbarukan dari luar.
Hal itu disampaikan Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna dalam taklimat media menjelang Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Rabu. Ia menegaskan bahwa pembangunan di sektor energi terbarukan kini berlangsung jauh lebih cepat dibanding sebelumnya, dan Indonesia berada di persimpangan untuk mulai mengambil keputusan strategis.
Sebagai gambaran, Putra menyebut China sebagai contoh nyata pergeseran tersebut. Meski negara itu masih membangun kapasitas pembangkit batu bara, tingkat penggunaannya justru mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Pada 2021, China bahkan berkomitmen menghentikan pendanaan pembangkit batu bara di luar negerinya. Langkah itu dilanjutkan dengan pengumuman inisiatif Zero Emission Industrial Park pada Juni tahun lalu, yang mencerminkan upaya sistematis China dalam meningkatkan standar industri rendah emisi. Putra menyimpulkan bahwa China kini telah mengambil alih peran sebagai motor utama transisi energi global, menggantikan negara-negara Barat.
Tidak hanya China, India pun disebut membangun pembangkit listrik tenaga surya setara kapasitas PLTS Cirata — pembangkit surya terbesar Indonesia — setiap lima hari sekali. Kecepatan pembangunan semacam itu menunjukkan betapa jauh jarak yang harus dikejar Indonesia jika tidak segera bergerak.
Putra menekankan bahwa isu ini bukan semata soal risiko iklim, melainkan juga soal peluang ekonomi. Indonesia, menurutnya, harus memastikan bahwa industri energi terbarukan seperti panel surya dan kendaraan listrik tidak sepenuhnya mengandalkan impor. Membangun kapasitas produksi domestik menjadi kunci agar manfaat ekonomi dari transisi energi dapat dinikmati di dalam negeri.
Konteks ini menjadi latar belakang penyelenggaraan INZS 2026 oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pada 1 Agustus mendatang di Jakarta. Forum tersebut mengangkat tema "It's Time to Deliver!", yang menurut FPCI mencerminkan urgensi untuk menerjemahkan komitmen iklim — baik global maupun nasional — menjadi aksi konkret, bukan sekadar deklarasi.
Tag: transisi energi, industri hijau, energi terbarukan, investasi energi bersih, INZS 2026