Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

Titik Panas Karhutla 2026 Lampaui Laju El Niño 2015, BMKG Peringatkan Puncak Risiko Agustus–September

2026-07-30 17:01 WIB · aindari · 👁 841 dibaca

BMKG mencatat 5.019 titik panas hingga pertengahan Juli 2026, dengan laju akumulasi yang melampaui periode El Niño manapun dalam satu dekade terakhir.

Laju kemunculan titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada 2026 melampaui kecepatan yang pernah tercatat selama periode El Niño sebelumnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan akumulasi titik panas telah menyentuh angka 5.019 hingga pertengahan Juli 2026 — dan yang lebih mengkhawatirkan bukan jumlahnya, melainkan seberapa cepat angka itu terbentuk.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis. Ia menegaskan bahwa grafik akumulasi titik panas sejak Januari menunjukkan laju peningkatan yang lebih tajam dibanding kondisi serupa pada tahun-tahun El Niño terdahulu, termasuk 2015, 2019, dan 2023. Perbandingan dengan 2015 — lebih dari satu dekade silam — menjadi penanda betapa anomali tahun ini terbilang serius.

Secara geografis, tiga provinsi menjadi penyumbang titik panas terbanyak: Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Asap kabut dari karhutla bahkan telah terpantau menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir, menandakan dampak yang sudah terasa di lapangan.

BMKG memproyeksikan puncak risiko karhutla akan berlangsung pada Agustus hingga September 2026, seiring dengan meningkatnya potensi kekeringan. Daerah-daerah yang masuk zona risiko tinggi meliputi Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan. Selain itu, Pulau Sulawesi diperkirakan mengalami peningkatan risiko secara bertahap pada September hingga Oktober 2026. Ardhasena menekankan bahwa Juli hingga akhir September merupakan rentang waktu paling kritis, sehingga intensifikasi pemantauan dan pengawasan lapangan menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.

Ancaman ini diperparah oleh kondisi musim kemarau yang terus menguat. Data BMKG pada dasarian terakhir Juli 2026 menunjukkan 509 Zona Musim atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sementara hanya 77 Zona Musim yang masih berada di musim hujan. Kekeringan mendominasi wilayah selatan khatulistiwa — mencakup Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua — dengan sejumlah kawasan sudah mencatat lebih dari 60 hari tanpa hujan.

Di balik semua itu, fenomena El Niño diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. BMKG memproyeksikan indeks El Niño mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Yang lebih mengkhawatirkan, terdapat peluang signifikan El Niño tahun ini berkembang melampaui kategori kuat, yang berarti dampaknya terhadap iklim Indonesia berpotensi lebih luas dan lebih panjang dari yang semula diantisipasi.

Tag: karhutla, El Niño, BMKG, titik panas, musim kemarau