Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Ketegangan AS-Iran Bayangi Rupiah, Permata Bank Proyeksikan Kurs di Kisaran Rp18.000–18.125

2026-07-31 10:01 WIB · aindari

Serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran memicu lonjakan harga minyak dan sentimen risk-off yang menekan pasar negara berkembang, termasuk rupiah.

Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat ini. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah itu mendorong sentimen risk-off di pasar negara berkembang, yang pada gilirannya turut mewarnai nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Pada Jumat pagi, rupiah tercatat menguat 37 poin atau sekitar 0,20 persen ke level Rp18.074 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.111 per dolar AS. Permata Bank memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.125 per dolar AS sepanjang hari ini.

Serangan AS terhadap Iran terjadi pada Rabu malam, 29 Juli, berdasarkan keterangan Komando Pusat AS (CENTCOM) yang menyebut aksi itu sebagai respons atas dugaan percobaan serangan Iran terhadap pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah menjanjikan balasan keras setelah sebuah drone menghantam tanker LNG milik AS di perairan Mesir.

Di luar faktor geopolitik, data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis belakangan ini juga memberikan gambaran pelemahan. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 1,5 persen secara kuartalan, melambat dari 2,1 persen pada kuartal sebelumnya dan berada di bawah konsensus pasar yang memperkirakan 2 persen. Konsumsi rumah tangga yang tercermin dari data Personal Spending juga hanya naik 0,3 persen secara bulanan pada Juni 2026, jauh lebih lambat dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 0,9 persen dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 0,4 persen.

Sementara itu, tekanan inflasi di AS menunjukkan tanda-tanda meredа. Indikator inflasi acuan bank sentral AS, yakni PCE Price Index dan Core PCE Price Index, masing-masing turun ke 3,7 persen dan 3,3 persen secara tahunan pada Juni 2026, sesuai dengan perkiraan pasar. Kombinasi pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang mulai jinak ini berpotensi memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed, meski ketidakpastian geopolitik tetap menjadi risiko yang perlu dicermati pelaku pasar.

Tag: rupiah, AS-Iran, harga minyak, ekonomi AS, geopolitik