BMKG Desak PLN dan Kementerian ESDM Kelola Air PLTA Lebih Cermat di Tengah Ancaman El Nino
2026-07-30 17:16 WIB · aindari · 👁 697 dibaca

Puncak El Nino diprediksi terjadi akhir 2026 hingga awal 2027, memperparah risiko defisit pasokan listrik saat beban puncak musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PLN, serta seluruh pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) agar segera menyusun strategi pengelolaan air yang lebih terukur. Langkah ini dinilai mendesak seiring dengan proyeksi bahwa fenomena El Nino berpotensi mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Januari 2027.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis. Ia menjelaskan bahwa musim kemarau secara historis selalu membawa dua tekanan sekaligus pada sektor kelistrikan: lonjakan konsumsi akibat penggunaan alat pendingin ruangan yang meningkat drastis, serta penurunan kapasitas produksi PLTA karena debit air waduk dan danau yang menyusut.
Menurut Ardhasena, data curah hujan dan pemutakhiran informasi iklim seharusnya dijadikan acuan utama dalam mengatur pola operasional turbin air. Manajemen alokasi air yang presisi, kata dia, menjadi kunci agar pasokan listrik dari PLTA tetap stabil melewati periode puncak kemarau. Efisiensi penggunaan air operasional sejak dini dinilai mampu menjaga keandalan suplai listrik nasional meski tekanan El Nino terus menguat.
Kekhawatiran BMKG bukan tanpa dasar. Prediksi terbaru lembaga itu menunjukkan peluang signifikan bahwa El Nino tahun ini bisa berkembang melampaui kategori kuat, sehingga dampaknya terhadap kondisi iklim Indonesia perlu terus dipantau. Pemantauan pada dasarian terakhir Juli 2026 mencatat 509 Zona Musim atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sementara wilayah yang masih mengalami musim hujan hanya tersisa 77 Zona Musim.
Secara geografis, kemarau kini mendominasi wilayah selatan khatulistiwa, mencakup Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua. Sejumlah wilayah bahkan masuk kategori kritis dengan lebih dari 60 hari tanpa hujan. Ardhasena menjelaskan pola ini sesuai karakteristik klimatologis Indonesia, di mana kemarau lazimnya bermula dari Nusa Tenggara Timur lalu bergerak bertahap ke arah barat.
Dengan kondisi tersebut, tekanan terhadap infrastruktur energi berbasis air berpotensi semakin berat dalam beberapa bulan ke depan. BMKG menegaskan bahwa antisipasi dini melalui pemanfaatan data iklim secara optimal merupakan langkah paling efektif untuk mencegah gangguan pasokan listrik nasional di tengah puncak musim kering yang diperparah El Nino.
Tag: El Nino, PLTA, BMKG, krisis listrik, musim kemarau