Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Otomotif

Ekonom: Ekspor Otomotif Tumbuh, tapi RI Butuh Industri Komponen yang Lebih Dalam

2026-07-31 17:05 WIB · aindari · 👁 842 dibaca

Kenaikan ekspor kendaraan dinilai belum cukup jika tidak ditopang penguatan rantai pasok komponen dalam negeri.

Kinerja industri otomotif Indonesia sepanjang paruh pertama 2026 mencatat sejumlah angka positif. Produksi kendaraan bermotor mencapai 615 ribu unit, tumbuh 11,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penjualan wholesales naik 15,9 persen menjadi 436 ribu unit, ekspor kendaraan utuh (CBU) tumbuh 7,7 persen, ekspor completely knocked down (CKD) melonjak 38 persen, ekspor komponen melejit 46 persen, sementara impor kendaraan utuh justru turun 49 persen. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut tren ini sebagai bukti transformasi Indonesia dari sekadar pasar menjadi basis produksi otomotif, pernyataan yang ia sampaikan dalam pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (30/7).

Namun di balik angka-angka tersebut, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan bahwa volume perakitan yang besar belum otomatis menjadikan sebuah negara sebagai basis produksi yang sesungguhnya. Menurutnya, kedalaman struktur industri dan kekuatan rantai pasok — terutama industri komponen — adalah penentu yang sama pentingnya.

Yusuf membandingkan posisi Indonesia dengan dua pesaing utama di kawasan. Thailand telah membangun jaringan pemasok komponen hingga lapis kedua dan ketiga selama puluhan tahun. Vietnam, meski lebih baru, berhasil menarik investasi lewat proses perizinan yang cepat dan integrasinya dengan rantai pasok industri elektronik. Indonesia memang memiliki keunggulan berupa pasar domestik yang besar serta cadangan mineral yang melimpah, tetapi Yusuf menilai keunggulan itu masih bersifat komparatif dan belum cukup untuk menempatkan Indonesia sebagai basis produksi yang kompetitif di tingkat regional.

Agar industri komponen bisa tumbuh, Yusuf menyebut beberapa langkah yang perlu ditempuh pemerintah: menekan biaya produksi melalui kepastian harga energi, meningkatkan efisiensi logistik, merancang insentif fiskal yang dikaitkan langsung dengan kinerja ekspor dan pendalaman industri, serta memperluas akses pembiayaan bagi pemasok komponen skala menengah.

Salah satu instrumen yang sudah ada dan bisa dioptimalkan adalah kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Namun Yusuf menyoroti bahwa selama ini kebijakan tersebut lebih banyak dikejar sebagai pemenuhan syarat administratif ketimbang sebagai pendorong peningkatan kapabilitas teknologi. Ia menegaskan kandungan lokal perlu bergerak melampaui komponen sederhana seperti ban atau jok, menuju komponen berteknologi tinggi seperti sistem penggerak, elektronik kendaraan, hingga perangkat lunak.

Tanpa penguatan di sisi komponen, Yusuf memperingatkan bahwa yang berkembang hanya aktivitas perakitan semata — bukan industri otomotif yang berdaya saing secara struktural. Transformasi menuju basis produksi sejati, dengan demikian, masih membutuhkan kerja lebih dari sekadar mencatat rekor ekspor.

Tag: industri otomotif, komponen kendaraan, TKDN, ekspor otomotif, CORE Indonesia