Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Otomotif

Koji Sato Dorong Tujuh Pabrikan Mobil Jepang Gunakan Komponen Bersama demi Lawan Dominasi China

2026-07-25 17:08 WIB · aindari · 👁 1rb dibaca

Ketua JAMA sekaligus mantan CEO Toyota mengusulkan standardisasi dan berbagi komponen antarmerek Jepang untuk menekan biaya produksi di tengah ketatnya persaingan dengan produsen otomotif China.

Koji Sato, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Toyota dan Ketua Asosiasi Produsen Mobil Jepang (JAMA), melontarkan gagasan besar: tujuh pabrikan mobil Jepang perlu menyatukan sumber daya dengan saling berbagi komponen yang tidak terlihat maupun disentuh langsung oleh konsumen. Langkah ini ditujukan untuk memangkas ongkos produksi sekaligus memperkuat posisi industri otomotif Jepang yang kian tertekan oleh laju pertumbuhan produsen asal China.

Gagasan tersebut melibatkan Honda, Mazda, Mitsubishi, Nissan, Subaru, Suzuki, dan Toyota. Ketujuh merek ini diusulkan bekerja sama bersama pemasok mereka untuk menetapkan standar tunggal pada komponen-komponen yang tidak bersentuhan langsung dengan pengalaman berkendara pelanggan. Cakupannya luas, mulai dari spesifikasi material, sistem suspensi, komponen elektronik, hingga sistem pengatur suhu kabin. Selain itu, unit kontrol, motor, dan aktuator juga bisa dirancang agar dapat dipertukarkan lintas model kendaraan dari berbagai merek.

Sato sebelumnya sudah mendorong pelonggaran standar kualitas Toyota yang dikenal sangat ketat pada aspek-aspek yang tidak dirasakan langsung oleh pengguna. Menurutnya, pendekatan ini mampu mempercepat siklus pengembangan produk. Ia bahkan menegaskan bahwa tanpa perubahan mendasar, industri otomotif Jepang akan sulit bertahan dalam persaingan global.

Manfaat standardisasi ini dinilai melampaui sekadar efisiensi biaya. Proses pengembangan teknologi baterai dan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik bisa disederhanakan. Platform infotainment pun dapat dikembangkan secara bersama dengan perangkat keras seragam, meski antarmuka pengguna tetap dibedakan sesuai identitas masing-masing merek. Variasi komponen kecil seperti klip, pengikat, dan wiring harness juga bisa dikurangi secara signifikan.

Meski mengakui bahwa tekanan persaingan dari China terus meningkat, Sato menampik bahwa usulannya merupakan reaksi langsung terhadap kecepatan pengembangan dan metode produksi berbiaya rendah yang diterapkan pabrikan China. Namun, ia pernah menjadikan kemampuan rekayasa teknik China sebagai tolok ukur bagi industri Jepang, menunjukkan bahwa ancaman tersebut memang menjadi perhatian serius.

Usulan ini sudah mendapat dukungan dari CEO Nissan, Ivan Espinosa. Akan tetapi, sejumlah analis industri memperingatkan bahwa koordinasi di antara tujuh produsen yang pada dasarnya saling bersaing justru berpotensi memperlambat proses pengembangan, alih-alih mempercepatnya. Posisi Toyota sebagai pabrikan terbesar di Jepang dan dunia juga memunculkan kekhawatiran bahwa standar Toyota bisa mendominasi dan dipaksakan kepada merek-merek lain.

Sato menanggapi kekhawatiran itu dengan menyatakan bahwa JAMA selalu dipimpin oleh perusahaan yang paling relevan menghadapi tantangan terbesar industri. Ia meyakini Toyota, dengan jangkauan bisnis globalnya, berada pada posisi yang tepat untuk membantu memperkuat fondasi daya saing internasional industri otomotif Jepang secara keseluruhan.

Tag: industri otomotif Jepang, persaingan otomotif China, Koji Sato, JAMA, standardisasi komponen