AMRO Dorong Kawasan ASEAN+3 Integrasikan AI dan Pembayaran Digital demi Kurangi Dominasi Dolar
2026-08-02 06:13 WIB · aindari · 👁 684 dibaca

Lembaga riset makroekonomi ASEAN+3 menyerukan strategi terkoordinasi yang memadukan kecerdasan buatan, infrastruktur energi, dan sistem pembayaran digital untuk menekan ketergantungan kawasan terhadap mata uang AS.
Kantor Penelitian Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO) mendesak negara-negara anggota ASEAN beserta China, Jepang, dan Korea Selatan untuk segera mempercepat integrasi teknologi kecerdasan buatan, infrastruktur energi, serta sistem pembayaran digital. Seruan yang disampaikan pada Kamis dari Singapura ini bertujuan agar kawasan tidak semakin terjerat pada ekosistem keuangan yang didominasi dolar Amerika Serikat, terutama di tengah transformasi perdagangan global yang dipicu oleh AI.
Para ekonom AMRO mengidentifikasi bahwa keputusan bisnis dari perusahaan-perusahaan AI, penyedia layanan komputasi awan, dan jaringan pembayaran telah melahirkan tatanan moneter baru yang secara alami berputar di sekitar mata uang AS. Dinamika ini berpotensi menciptakan lingkaran penguatan dolar yang berjalan dengan sendirinya, memperbesar risiko ketergantungan bagi negara-negara di luar ekosistem tersebut.
Meski mengakui bahwa kawasan ASEAN+3 tidak mampu sepenuhnya mencegah terbentuknya siklus penguatan dolar tersebut, AMRO menegaskan bahwa langkah-langkah strategis masih bisa diambil untuk membatasi dampaknya. Kuncinya terletak pada pendekatan terkoordinasi yang menyatukan tiga pilar sekaligus: energi, AI, dan pembayaran. Strategi terpadu ini dinilai mampu memperkuat daya saing digital kawasan tanpa harus semakin bergantung pada infrastruktur keuangan berbasis dolar.
Secara konkret, AMRO merekomendasikan perluasan kapasitas pusat data di tingkat regional. Pusat-pusat data ini perlu ditopang oleh sumber energi yang terjangkau dan semakin ramah lingkungan agar akses terhadap daya komputasi bisa dinikmati secara lokal. Dengan demikian, negara-negara kawasan tidak perlu sepenuhnya mengandalkan infrastruktur komputasi asing yang beroperasi dalam denominasi dolar.
Rekomendasi lain yang tak kalah penting adalah pengembangan sistem pembayaran berbasis token mata uang lokal. Sistem ini dirancang untuk mampu mengakomodasi transaksi perdagangan yang melibatkan agen AI, sehingga aktivitas ekonomi digital bisa berjalan menggunakan mata uang kawasan. AMRO menilai pendekatan ini akan membuka jalan bagi pelaku usaha untuk berpartisipasi penuh dalam ekonomi digital tanpa terjebak lebih dalam pada jaringan pembayaran yang didominasi dolar AS.
Selain aspek efisiensi dan kemandirian, AMRO juga menekankan pentingnya dimensi pengawasan. Sistem pembayaran berbasis token mata uang lokal memungkinkan otoritas regulasi di masing-masing negara untuk tetap memantau dan mengawasi transaksi keuangan yang terjadi di wilayah yurisdiksi mereka. Hal ini menjadi krusial di era ketika transaksi digital lintas batas semakin masif dan kompleks.
Seruan AMRO ini mencerminkan kesadaran yang tumbuh di kawasan bahwa revolusi AI tidak hanya membawa peluang ekonomi, tetapi juga potensi risiko geoekonomi berupa pendalaman dominasi satu mata uang dalam arsitektur keuangan global. Respons kolektif dan terkoordinasi dari ASEAN+3 dipandang sebagai jalan paling realistis untuk menjaga keseimbangan tersebut.
Tag: AMRO, ASEAN+3, kecerdasan buatan, de-dolarisasi, pembayaran digital