Intervensi Bersama Jepang-AS Dongkrak Yen, Bursa Tokyo Tertekan
2026-08-03 17:02 WIB · aindari · 👁 883 dibaca

Koordinasi pembelian yen antara Tokyo dan Washington mendorong penguatan tajam mata uang Jepang, namun sekaligus memicu kekhawatiran di pasar saham.
Nilai tukar yen Jepang menguat signifikan terhadap dolar AS pada Senin (3/8) pagi, sempat menembus level di bawah 155 yen per dolar — jauh lebih kuat dibanding posisi 160,20–160,22 yen yang tercatat di Tokyo pada Jumat (31/7) sore. Penguatan ini terjadi setelah Jepang mengungkap adanya intervensi pasar valuta asing yang dilakukan secara bersama dengan Amerika Serikat.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama secara resmi mengonfirmasi bahwa kementeriannya telah berkoordinasi dengan Departemen Keuangan AS untuk melakukan pembelian yen secara terkoordinasi. Operasi tersebut berlangsung sejak Kamis (30/7) malam hingga Sabtu (1/8) pagi waktu Jepang. Alasan yang dikemukakan adalah volatilitas nilai yen yang dinilai berlebihan dalam beberapa bulan terakhir.
Langkah ini menjadi intervensi pasar valuta asing terkoordinasi pertama antara Tokyo dan Washington dalam lebih dari satu dekade. Terakhir kali kedua negara melakukan hal serupa adalah pada 2011, ketika yen melonjak tajam menyusul bencana Gempa Bumi Besar Jepang Timur. Katayama juga menegaskan bahwa kedua pihak tidak akan segan mengulang intervensi gabungan apabila kondisi pasar menuntutnya.
Pada tengah hari Senin, dolar AS diperdagangkan di kisaran 156,46–156,47 yen setelah sebelumnya sempat menyentuh 155,20 yen. Sebagai perbandingan, di pasar New York pada Jumat, dolar berada di rentang 157,33–157,43 yen. Pergerakan ini mencerminkan betapa cepatnya pasar merespons konfirmasi intervensi tersebut.
Di sisi lain, penguatan yen justru menimbulkan tekanan di pasar saham. Indeks Nikkei di Bursa Tokyo sempat terkoreksi lebih dari dua persen pada Senin pagi. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar bahwa yen yang terlalu kuat berpotensi menggerus daya saing ekspor dan prospek laba perusahaan-perusahaan Jepang yang berorientasi global.
Dua dinamika yang berlawanan ini — yen menguat sementara saham melemah — menggambarkan dilema yang kerap dihadapi otoritas Jepang: menstabilkan mata uang di satu sisi, namun di sisi lain menghadapi risiko sentimen negatif di pasar ekuitas. Pernyataan Katayama soal kemungkinan intervensi lanjutan menambah ketidakpastian yang kemungkinan akan terus mewarnai pergerakan pasar dalam waktu dekat.
Tag: yen, intervensi valuta asing, Nikkei, ekonomi Jepang, dolar AS