Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Beijing Balas Washington: Drone dan Teknologi Dwiguna Kini Wajib Izin Ketat untuk Diekspor ke AS

2026-08-05 23:31 WIB · aindari · 👁 578 dibaca

China memberlakukan pengawasan ekspor ketat atas drone dan barang dwiguna ke Amerika Serikat, sekaligus menjatuhkan serangkaian tindakan balasan terhadap entitas dan kebijakan AS.

Beijing resmi memperketat kontrol ekspor pesawat nirawak beserta komponen dan teknologi terkaitnya ke Amerika Serikat, efektif mulai Rabu pekan ini. Kementerian Perdagangan China menyebut kebijakan itu dilandasi kepentingan keamanan nasional sekaligus pemenuhan kewajiban internasional, termasuk dalam kerangka nonproliferasi senjata.

Di bawah aturan baru ini, seluruh ekspor drone dan barang dwiguna yang masuk daftar pengawasan China ke pasar Amerika akan diperiksa secara individual per kasus. Kemudahan perizinan yang sebelumnya berlaku kini dicabut, sehingga proses persetujuan menjadi jauh lebih panjang dan tidak otomatis.

Langkah Beijing ini merupakan respons langsung terhadap serangkaian pembatasan yang diberlakukan Washington dalam beberapa waktu terakhir. Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) telah memberikan persetujuan awal atas rencana pelarangan impor drone berstandar militer buatan luar negeri — kebijakan yang secara luas dipandang menyasar produsen China. FCC juga memasukkan robot humanoid, robot berkaki empat, dan inverter listrik — yang sebagian besar diproduksi di China — ke dalam daftar peralatan berisiko untuk dipasarkan di wilayah AS. Selain itu, Washington baru-baru ini menambahkan 43 perusahaan China ke daftar hitam impor dengan tuduhan keterlibatan dalam praktik kerja paksa terhadap warga Uyghur dan kelompok minoritas lain.

Tidak berhenti pada kontrol ekspor, Beijing juga mengambil sejumlah langkah lain secara bersamaan. Inspeksi pasca-sertifikasi oleh lembaga sertifikasi Amerika yang ditunjuk institusi China dihentikan. Pemerintah China turut membuka penyelidikan keamanan nasional terhadap peralatan kantor impor — khususnya mesin cetak dan pengganda dokumen yang menggunakan perangkat lunak sistem asing.

Di sisi tindakan balasan langsung, China memasukkan perusahaan AS Compliance Testing LLC ke dalam daftar hitamnya, yang berarti seluruh transaksi dan kerja sama dengan perusahaan itu dilarang bagi pihak China. Enam entitas Amerika lain juga dikenai sanksi balasan atas tuduhan membantu penerapan sanksi AS terkait Xinjiang, yakni Applied DNA Sciences Inc., Stratum Reservoir LLC, Altana Technologies Inc., Responsible Business Alliance, Verite Group Inc., dan Human Rights in China.

Juru bicara Kementerian Perdagangan China secara terbuka mendesak Washington mencabut seluruh pembatasan tersebut dan kembali menyelesaikan perbedaan lewat jalur konsultasi. Beijing sekaligus memperingatkan bahwa pembatasan baru dari pihak AS akan dibalas dengan langkah-langkah lanjutan.

Eskalasi ini mencerminkan pola saling balas yang semakin meluas antara dua ekonomi terbesar dunia, kini merambah sektor teknologi strategis seperti drone dan robotika — jauh melampaui perselisihan tarif konvensional.

Tag: China, Amerika Serikat, drone, perang dagang, kontrol ekspor