SOLATA Pulang dari Eropa Timur, Bawa Kisah Guru Toraja ke Panggung Dunia
2026-08-06 06:08 WIB · aindari · 👁 529 dibaca

Film Indonesia berlatar pelosok Tana Toraja ini menuntaskan tur lima kota di empat negara setelah meraih penghargaan di Bulgaria.
Film SOLATA kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan perjalanan panjang melintasi Eropa Timur. Karya sinema yang mengangkat dunia pendidikan di pedalaman Toraja itu mendapat sambutan dari komunitas perfilman, mahasiswa, diaspora Indonesia, hingga masyarakat lokal di sejumlah kota yang dikunjungi.
Nama SOLATA berasal dari bahasa Toraja yang berarti "teman sebagai keluarga yang kita pilih". Film ini disutradarai sekaligus diproduseri oleh Ichwan Persada, yang mengisahkan seorang relawan guru dari Jakarta yang mengajar di Ollon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Di sana, sang guru — diperankan oleh Rendy Kjaernett — berhadapan langsung dengan kondisi pendidikan dan kehidupan anak-anak yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Momen yang memperkuat pesan film datang dari enam murid yang kebetulan memiliki nama depan menyerupai nama-nama presiden Indonesia. Detail ini bukan sekadar keunikan cerita, melainkan simbol nasionalisme yang menjadi salah satu benang merah narasi SOLATA. Selain itu, film turut menampilkan keindahan alam, kehidupan sosial, dan kekayaan budaya masyarakat Toraja sebagai bagian dari identitas Indonesia yang diperkenalkan kepada dunia.
Sebelum kembali ke Tanah Air, SOLATA mencatatkan pencapaian di kancah internasional. Pada 6 Juni 2026, film ini meraih Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism di Golden FEMI Film Festival, Sofia, Bulgaria. Setelah penghargaan itu, tim SOLATA melanjutkan tur ke Bratislava (Slovakia), Budapest (Hungaria), serta Ankara dan Istanbul (Turki) sepanjang pertengahan hingga akhir Juni 2026 — total lima kota di empat negara.
Ichwan menyebut perjalanan tersebut bukan semata promosi film, melainkan juga ruang dialog tentang pendidikan, kemanusiaan, persahabatan, dan nasionalisme. Pertemuan dengan berbagai kalangan di Eropa Timur menjadi pengalaman tersendiri bagi tim dalam memperkenalkan wajah Indonesia melalui karya sinema.
Kini kepulangan SOLATA ke Indonesia menjadi momentum untuk mendekatkan kembali film ini kepada penonton domestik, sekaligus membawa pulang pelajaran dari panggung internasional. Bagi Ichwan, perjalanan SOLATA membuktikan bahwa cerita lokal berlatar budaya Indonesia mampu menyentuh dan menarik perhatian penonton dari belahan dunia lain.
Tag: SOLATA, film Indonesia, Tana Toraja, Ichwan Persada, festival film internasional