Kemiskinan di Sumsel Berkurang 28 Ribu Orang, Panen Melimpah dan Momen Lebaran Jadi Pendorong
2026-08-06 06:10 WIB · aindari · 👁 503 dibaca

BPS mencatat penduduk miskin Sumatera Selatan turun menjadi 869.970 orang pada Maret 2026, didorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Jumlah penduduk miskin di Sumatera Selatan menyusut signifikan dalam enam bulan terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat per Maret 2026 terdapat 869.970 orang yang masuk kategori miskin di provinsi itu, berkurang 28.300 orang dibandingkan posisi September 2025 yang mencapai 898.270 orang.
Kepala BPS Sumatera Selatan Moh. Wahyu Yulianto menyebut penurunan ini tidak lepas dari kinerja ekonomi daerah yang cukup solid. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Sumsel tercatat sebesar 5,34 persen. Sektor pertanian tumbuh dengan hasil panen yang melimpah disertai kenaikan harga pembelian pemerintah, sementara konsumsi rumah tangga ikut terkerek oleh momen Ramadan, Idul Fitri, dan pencairan gaji ke-13 aparatur sipil negara.
Penurunan angka kemiskinan terjadi merata, baik di kota maupun desa. Di wilayah perkotaan, jumlah penduduk miskin berkurang 13.300 orang — dari 310.560 menjadi 297.240 orang — dengan persentase turun dari 8,91 persen menjadi 8,48 persen. Di perdesaan, penurunannya lebih besar secara absolut, yakni 14.900 orang, dari 587.680 menjadi 572.730 orang, dengan persentase bergerak dari 10,43 persen ke 10,13 persen.
BPS menetapkan Garis Kemiskinan Sumsel pada Maret 2026 sebesar Rp622 ribu per kapita per bulan. Dengan rata-rata anggota rumah tangga empat hingga lima orang, batas minimum pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar berada di kisaran Rp2,9 juta hingga Rp3 juta per bulan.
Wahyu menekankan pentingnya peningkatan pendapatan sebagai kunci menekan kemiskinan. Ia mengimbau pelaku usaha agar membayar upah pekerja sesuai Upah Minimum Provinsi, karena ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut berisiko mendorong rumah tangga pekerja masuk ke dalam kategori miskin.
Dalam memantau garis kemiskinan, BPS mengacu pada 52 komoditas pangan dan 51 komoditas nonpangan. Dari pemantauan itu, beras dan rokok kretek tercatat sebagai dua komponen dengan porsi pengeluaran terbesar pada rumah tangga miskin. Wahyu mengingatkan pemerintah daerah agar menjaga stabilitas harga beras, mengingat komoditas itu sangat menentukan daya beli kelompok berpenghasilan rendah.
Soal rokok, Wahyu menyoroti besarnya porsi pengeluaran untuk komoditas tersebut yang dinilai tidak memberikan nilai gizi. Menurutnya, pengeluaran itu idealnya dialihkan ke bahan pangan berkalori, meski ia mengakui kebiasaan merokok sudah mengakar kuat sebagai bagian dari pola konsumsi masyarakat.
Tag: kemiskinan, Sumatera Selatan, BPS, pertumbuhan ekonomi, garis kemiskinan