Tiga Negara Muslim Bentuk Pakta Pertahanan, Iran Langsung Angkat Bicara
2026-08-08 10:31 WIB · aindari · 👁 837 dibaca

Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menandatangani perjanjian pertahanan di Mekah di tengah memanasnya situasi kawasan Timur Tengah, memicu respons tajam dari Iran.
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan resmi mengikat diri dalam sebuah perjanjian pertahanan yang ditandatangani di Mekah. Kesepakatan ini muncul di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah, dan langsung menarik perhatian berbagai pihak — baik yang mendukung maupun yang memandangnya dengan skeptis.
Ketiga negara yang terlibat memiliki bobot strategis masing-masing. Turki adalah anggota NATO dengan angkatan bersenjata yang berpengalaman. Arab Saudi merupakan kekuatan ekonomi dan politik dominan di kawasan Teluk. Sementara Pakistan membawa dimensi tersendiri sebagai satu-satunya negara dengan kepemilikan senjata nuklir di antara ketiganya — faktor yang membuat pakta ini mendapat perhatian lebih luas di luar kawasan.
Namun tidak semua pihak menyambut perjanjian ini dengan serius. Mantan petinggi keamanan Israel menyindir Riyadh dengan menyebutnya sebagai "macan kertas" — negara yang memiliki persenjataan lengkap tetapi dinilai tidak memiliki kapasitas untuk menggunakannya secara efektif. Sindiran ini mencerminkan keraguan sebagian kalangan terhadap kemampuan militer Arab Saudi dalam praktiknya di lapangan.
Reaksi paling keras datang dari Iran. Pejabat Teheran memperingatkan bahwa pakta pertahanan semacam ini tidak akan mampu menjamin keamanan Arab Saudi. Pernyataan tersebut bernada ancaman sekaligus meremehkan, dan mencerminkan persaingan pengaruh yang sudah lama berlangsung antara Iran dan Arab Saudi di kawasan — persaingan yang kini semakin terasa di tengah konflik-konflik aktif di Timur Tengah.
Dari sisi geopolitik, terbentuknya aliansi ini menambah kompleksitas peta kekuatan di kawasan. Bergabungnya Pakistan — dengan kapabilitas nuklirnya — ke dalam kerangka kerja sama dengan Saudi dan Turki berpotensi mengubah kalkulasi keamanan regional, meski sejauh mana pakta ini akan diterjemahkan ke dalam kerja sama militer konkret masih belum jelas.
Sentimen di pasar dan kalangan analis keamanan kemungkinan akan mencermati perkembangan ini secara seksama, terutama menyangkut bagaimana Iran dan aktor-aktor regional lain akan merespons dalam waktu dekat. Pakta ini bisa menjadi sinyal konsolidasi blok baru di Timur Tengah, atau sekadar pernyataan diplomatik yang belum tentu berujung pada integrasi pertahanan yang nyata.
Tag: Arab Saudi, Turki, Pakistan, pakta pertahanan, Timur Tengah