Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Di Tengah Ketegangan Global, Sekjen ASEAN Serukan Kembali Komitmen pada Prinsip TAC

2026-08-09 06:10 WIB · aindari · 👁 454 dibaca

Kao Kim Hourn menegaskan bahwa prinsip-prinsip dalam Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Asia Tenggara tetap relevan sebagai kerangka pengelolaan konflik dan pembangunan kepercayaan antarnegara.

Dalam peringatan Hari ASEAN ke-59 yang digelar di Sekretariat ASEAN, Jakarta, pada Sabtu, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menggarisbawahi relevansi berkelanjutan dari Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (TAC). Menurutnya, di saat dunia menghadapi persaingan strategis yang kian tajam dan konflik yang tak kunjung reda, nilai-nilai yang terkandung dalam TAC justru makin dibutuhkan.

TAC memuat sejumlah prinsip fundamental yang selama lima dekade menjadi landasan hubungan antarnegara anggota ASEAN. Prinsip-prinsip itu mencakup penghormatan timbal balik, kesetaraan kedaulatan, non-intervensi terhadap urusan dalam negeri, penolakan penggunaan kekerasan, serta komitmen menyelesaikan perselisihan melalui jalur damai. Kao Kim Hourn menyatakan bahwa prinsip-prinsip ini tidak hanya mengatur relasi internal ASEAN, tetapi juga menjadi acuan dalam menjalin kerja sama dengan mitra di kawasan maupun di tingkat global.

Sekjen ASEAN juga memaparkan enam tonggak sejarah yang membentuk wajah Komunitas ASEAN seperti yang dikenal saat ini. Perjalanan itu dimulai dari Deklarasi Bangkok 1967 yang menandai berdirinya ASEAN, dilanjutkan Deklarasi Zona Perdamaian, Kebebasan, dan Netralitas (ZOPFAN) pada 1971, lalu penandatanganan TAC itu sendiri pada 1976. Tiga tonggak berikutnya adalah pembentukan Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ) pada 1995, pengesahan Piagam ASEAN pada 2007 yang diratifikasi setahun kemudian, serta adopsi Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik (AOIP) pada 2019.

Salah satu indikator paling nyata dari daya tarik TAC adalah pertumbuhan jumlah pihak yang mengaksesinya. Dari semula hanya lima negara penandatangan, kini TAC telah diikuti oleh 62 pihak Kontrak Tinggi yang merepresentasikan berbagai kawasan di seluruh dunia. Kao Kim Hourn menilai ekspansi tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan komunitas internasional terhadap pendekatan ASEAN dalam memelihara perdamaian dan stabilitas.

Perkembangan jumlah aksesi itu juga menunjukkan evolusi TAC dari sekadar kesepakatan regional menjadi kerangka kerja yang diakui secara global. Kerangka ini berpijak pada dialog, saling menghormati, dan kerja sama damai sebagai fondasi hubungan antarnegara. Dalam konteks gejolak geopolitik yang terus meningkat, Kao Kim Hourn menegaskan bahwa TAC tetap menyediakan instrumen berharga untuk membangun rasa saling percaya, mengelola perbedaan tanpa kekerasan, dan mendorong kolaborasi konstruktif di antara negara-negara.

Tag: ASEAN, TAC, Kao Kim Hourn, geopolitik, diplomasi Asia Tenggara