Pejabat Militer AS Ragukan Efektivitas Serangan Udara untuk Menekan Iran
2026-08-08 17:06 WIB · aindari · 👁 859 dibaca

Jenderal Dan Caine dan sejumlah pejabat tinggi AS menilai kekuatan udara saja tidak cukup memaksa Iran memenuhi tuntutan Washington, di tengah kekhawatiran soal aksi balasan dan menipisnya persediaan senjata.
Keraguan serius tengah menyelimuti kalangan militer Amerika Serikat terkait strategi menghadapi Iran. Jenderal Dan Caine, yang menjabat sebagai Ketua Kepala Staf Gabungan, bersama sejumlah pejabat lain menyimpulkan bahwa operasi udara semata kemungkinan besar tidak akan berhasil memaksa Teheran tunduk pada tuntutan Washington. Penilaian ini muncul meski Presiden Donald Trump diketahui lebih condong menghindari pengiriman pasukan darat ke kawasan tersebut.
Keyakinan ini mendorong Caine untuk secara langsung mendesak para pejabat senior di pemerintahan Trump agar mengupayakan jalur de-eskalasi dengan Iran. Berdasarkan laporan CNN yang mengutip tiga sumber yang mengetahui pembicaraan internal tersebut, Caine menyampaikan kekhawatirannya kepada sejumlah figur kunci, termasuk Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance.
Salah satu pertimbangan utama di balik sikap skeptis tersebut adalah potensi dampak terbatas dari serangan udara yang justru bisa memicu respons balasan lebih besar dari Iran. Para pejabat khawatir Teheran dapat menargetkan sekutu-sekutu AS serta infrastruktur energi strategis di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk pembalasan. Kekhawatiran ini turut menjadi alasan mengapa rencana eskalasi yang diusulkan pada akhir Juli lalu mendapat penolakan dari kalangan militer.
Trump sendiri akhirnya memutuskan menunda operasi tersebut setelah negara-negara mitra di kawasan Teluk memberikan peringatan mengenai kemungkinan terjadinya serangan balasan. Selain risiko geopolitik, keterbatasan logistik juga menjadi faktor penting. Laporan tersebut menyoroti kekhawatiran yang meningkat soal menipisnya stok senjata AS, mulai dari pencegat pertahanan udara hingga berbagai jenis amunisi berpemandu presisi. Kondisi ini dinilai dapat menghambat kemampuan militer AS untuk mempertahankan konflik berkepanjangan.
Meski menyuarakan kekhawatiran, Caine dilaporkan tetap menegaskan bahwa kekuatan militer AS memiliki kapasitas untuk menimbulkan kerusakan besar terhadap Iran apabila perintah eskalasi benar-benar diberikan. Ia sebelumnya juga telah memperingatkan Trump secara langsung mengenai berbagai risiko militer yang mungkin timbul dari konfrontasi terbuka.
Di sisi lain, para pejabat pemerintahan kini tengah mencari formula yang memungkinkan Trump mengklaim keberhasilan politik tanpa menutup pintu diplomasi. Salah satu opsi yang tengah dibahas adalah kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global. Langkah ini dipandang sebagai jalan tengah yang dapat meredakan ketegangan sekaligus memberikan hasil konkret bagi pemerintahan AS.
Tag: konflik AS-Iran, militer Amerika Serikat, Dan Caine, Selat Hormuz, diplomasi Timur Tengah