Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Teheran Pasang Syarat Ketat untuk Pembukaan Selat Hormuz, Tuntut Perubahan Sikap Washington

2026-08-09 11:01 WIB · aindari · 👁 746 dibaca

Iran menetapkan sejumlah prasyarat bagi Amerika Serikat sebelum bersedia membuka kembali Selat Hormuz, termasuk penghentian ancaman militer dan pencabutan sanksi.

Ketegangan di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah Iran secara tegas menyatakan tidak akan membuka kembali selat tersebut tanpa dipenuhinya serangkaian tuntutan kepada Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, pada hari Ahad.

Zolghadr menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz baru akan terjadi apabila Washington mengubah sikapnya dan menghentikan segala bentuk ancaman terhadap Republik Islam Iran. Ia menyebut hal itu sebagai prasyarat mendasar yang tidak bisa ditawar.

Selain penghentian ancaman, daftar tuntutan Teheran mencakup beberapa poin lain yang tidak kalah berat. Iran menuntut dihentikannya seluruh operasi militer yang menyasar Iran maupun sekutu-sekutunya, dicabutnya sanksi ekonomi serta blokade laut yang selama ini membebani perekonomian negara itu, ditariknya pasukan AS dari kawasan sekitar Iran, hingga pembayaran kompensasi atas kerugian yang diderita.

Pernyataan keras dari pejabat senior Iran ini muncul di tengah dinamika diplomatik yang cukup kompleks. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan pembatalan rencana serangan militer terhadap Iran dengan alasan adanya upaya kesepakatan damai yang tengah dirintis. Kesepakatan tersebut disebut mencakup dua agenda utama, yakni pembukaan kembali Selat Hormuz dan penyelesaian terkait program nuklir Iran.

Di sisi lain, terdapat perkembangan diplomatik terpisah yang melibatkan Oman sebagai mediator regional. Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu, 5 Agustus, mengungkapkan bahwa Teheran dan Muskat telah mencapai kesepahaman mengenai rincian geografis rute pelayaran kapal yang melintas di Selat Hormuz. Kesepakatan teknis ini menjadi sinyal bahwa ada jalur diplomasi yang tetap berjalan meski retorika antara Iran dan AS masih memanas.

Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint maritim paling vital di dunia karena menjadi jalur lalu lintas sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk. Penutupan selat ini berpotensi mengguncang pasar energi global dan memperburuk ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah. Sikap tegas Iran dalam memasang prasyarat menunjukkan bahwa pembukaan kembali jalur tersebut masih menghadapi jalan panjang, meskipun upaya diplomatik dari berbagai pihak terus berlangsung.

Tag: Selat Hormuz, Iran, Amerika Serikat, geopolitik Timur Tengah, sanksi