Forum Investasi Pamor Borneo 2026 Hasilkan Minat Rp73 Triliun dari 20 Investor
2026-08-10 06:12 WIB · aindari · 👁 787 dibaca

Sebanyak 12 Letter of Intent ditandatangani selama tiga hari gelaran Pamor Borneo 2026 di Banjarmasin, dengan proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol sebagai penawaran terbesar.
Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan mencatat total minat investasi senilai Rp73 triliun yang terkumpul dari Investment Forum dalam rangkaian Pamor Borneo 2026. Forum yang berlangsung di Banjarmasin pada 7–9 Agustus 2026 itu mempertemukan 20 investor domestik dan mancanegara dengan pemilik proyek, menghasilkan 12 Letter of Intent (LoI) sebagai tanda awal penjajakan investasi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel Haris Munandar menyebut capaian tersebut sebagai hasil utama dari gelaran tiga hari itu. Menurutnya, Pamor Borneo dirancang untuk memperkuat kinerja ekonomi seluruh wilayah Kalimantan melalui tiga jalur utama: akselerasi investasi, peningkatan daya saing UMKM, dan perluasan digitalisasi sistem pembayaran berbasis QRIS.
Dari sisi proyek yang ditawarkan, sebelumnya pada sesi pembukaan dipromosikan 15 proyek strategis dari berbagai sektor unggulan dengan total nilai sekitar Rp62,13 triliun. Proyek dengan nilai terbesar adalah pembangunan pabrik hilirisasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, yang ditaksir bernilai sekitar Rp46,17 triliun. Sejumlah proyek strategis lain tersebar di provinsi-provinsi lain di Pulau Kalimantan.
Selain forum investasi, pameran UMKM turut menjadi bagian dari Pamor Borneo 2026. Produk yang ditampilkan mencakup makanan dan minuman, fesyen, serta kriya — membuka ruang promosi bagi pelaku usaha daerah untuk memperluas akses pasar. Ketua Dekranasda Provinsi Kalsel Fathul Jannah juga mengajak berbagai pihak untuk memperkuat pelestarian wastra khas Kalimantan Selatan, terutama kain sasirangan, melalui kolaborasi antara UMKM, desainer, pemerintah daerah, dan sektor swasta agar produk budaya tersebut memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam bidang digitalisasi, Bank Indonesia memberikan gelar "Bunda QRIS Kalimantan Selatan" kepada Fathul Jannah sebagai apresiasi atas kontribusinya mendorong pemanfaatan QRIS di kalangan masyarakat dan pelaku usaha. Haris menegaskan perluasan digitalisasi pembayaran merupakan bagian dari upaya memposisikan Kalimantan Selatan sebagai gerbang logistik dan pusat perekonomian di Kalimantan, sejalan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan di wilayah tersebut.
Haris menekankan bahwa seluruh capaian ini merupakan buah sinergi antara Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Dekranasda, pelaku UMKM, sektor swasta, dan berbagai mitra kerja. Ia berharap kolaborasi lintas pihak itu tidak berhenti setelah Pamor Borneo 2026 berakhir, melainkan terus berlanjut agar minat investasi yang sudah terbentuk dapat ditindaklanjuti secara nyata. Fathul Jannah senada, menyebut pembinaan UMKM, penguatan investasi, dan digitalisasi harus menjadi agenda berkelanjutan demi mendukung visi Kalsel Bekerja menuju gerbang logistik Kalimantan.
Tag: Pamor Borneo 2026, investasi Kalimantan, Bank Indonesia, UMKM, QRIS