Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

IESR: Target PLTS 100 GW Butuh Banyak Jalur, Bukan Satu Skema Tunggal

2026-08-10 06:16 WIB · aindari · 👁 739 dibaca

Lembaga riset energi IESR menegaskan target 100 gigawatt tenaga surya pada 2030 hanya bisa tercapai jika pemerintah menjalankan beragam jalur pembangunan secara bersamaan.

Target ambisius pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) dinilai tidak akan terwujud jika hanya mengandalkan satu pendekatan. Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebut strategi multijalur sebagai syarat utama agar program ini berjalan efektif dan tidak rentan terhadap ketergantungan pada satu skema proyek atau satu sumber pembiayaan.

CEO IESR Fabby Tumiwa menyampaikan hal tersebut di Jakarta, Minggu. Menurutnya, pemerintah perlu memadukan berbagai jalur pembangunan secara serentak — mulai dari proyek skala besar, PLTS atap, program dedieselisasi, elektrifikasi desa, hingga penggantian bertahap pembangkit berbahan bakar fosil.

Salah satu jalur yang ditekankan adalah percepatan pemasangan PLTS atap, baik untuk rumah tangga, bangunan komersial, maupun kawasan industri. Di sisi lain, program listrik desa juga perlu ditingkatkan kualitasnya, termasuk melalui keterlibatan Koperasi Desa Merah Putih atau BUMDes, sehingga pasokan listrik tidak hanya menjangkau permukiman tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi produktif di daerah.

Fabby juga menyoroti pentingnya perluasan program dedieselisasi — mengganti pembangkit diesel di daerah terpencil dengan kombinasi PLTS dan baterai — serta pemanfaatan PLTS sebagai penyuplai listrik untuk fasilitas pendukung pembangkit batu bara yang masih beroperasi. Selain itu, ia mendorong pemerintah membatalkan rencana pembangunan PLTU dan PLTG baru yang belum masuk tahap konstruksi, sekaligus menurunkan faktor kapasitas pembangkit fosil yang sudah ada dan menggantinya secara bertahap dengan energi surya dan penyimpanan baterai.

Dengan kombinasi seluruh jalur tersebut, IESR memperkirakan kapasitas kumulatif PLTS secara teknis dapat menyentuh sekitar 80 GW pada 2030. Namun angka itu masih di bawah target, sehingga diperlukan upaya tambahan — terutama dari implementasi PLTS terdistribusi yang melibatkan berbagai aktor di luar pemerintah pusat.

IESR juga mengingatkan bahwa kecepatan pembangunan tidak boleh mengorbankan kualitas. Kesiapan sistem kelistrikan, ketersediaan sumber daya manusia terlatih, perkembangan rantai pasok industri dalam negeri, keberlanjutan pembiayaan, dan mutu proyek tetap harus menjadi perhatian dalam setiap tahap implementasi.

Sebelumnya, IESR telah mendorong agar program PLTS 100 GW ditetapkan sebagai program nasional — bukan sekadar agenda satu kementerian — sehingga koordinasi lintas lembaga dapat berjalan lebih terpadu dan target 2030 memiliki landasan kebijakan yang lebih kuat.

Tag: PLTS, energi surya, IESR, transisi energi, dedieselisasi