Warga Muda Kepri Jadi Sasaran Program Cegah Diabetes dan Hipertensi BPJS Kesehatan
2026-08-10 17:13 WIB · aindari · 👁 507 dibaca

BPJS Kesehatan Tanjungpinang menyasar kelompok usia di bawah 45 tahun lewat program prolanis muda untuk menekan risiko komplikasi penyakit kronis.
Kasus diabetes melitus dan hipertensi yang kian menjangkau usia produktif mendorong BPJS Kesehatan Cabang Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, memperketat langkah pencegahan. Sasaran utamanya adalah warga berusia 45 tahun ke bawah yang selama ini jarang memeriksakan diri karena belum merasakan keluhan berarti.
Kepala BPJS Kesehatan Tanjungpinang, Nara Grace, menyebut pergeseran gaya hidup di era modern sebagai pemicu utama munculnya kedua penyakit itu di kalangan usia muda. Kebiasaan kurang bergerak, merokok, pola makan tidak sehat, hingga tekanan stres sejak dini menjadi faktor yang memperparah kondisi tersebut. Masalahnya, gejala awal seperti mudah mengantuk, sering gatal di telapak tangan dan kaki, badan makin kurus, atau sering buang air kecil di malam hari kerap diabaikan karena dianggap masih bisa ditahan.
Untuk menjangkau kelompok ini, BPJS Kesehatan Tanjungpinang menjalankan program pengelolaan penyakit kronis khusus usia muda, yang dikenal sebagai prolanis muda. Program ini dirancang agar peserta tetap bisa menjalani hidup aktif sambil mengontrol kondisi kesehatannya sejak dini, sekaligus mencegah komplikasi yang lebih berat di kemudian hari.
Peserta prolanis muda mendapat serangkaian layanan terpadu. Setiap Jumat atau Sabtu, mereka mengikuti senam sehat rutin di klinik maupun puskesmas. Selain itu, tersedia penyuluhan kesehatan langsung dari dokter, pemberian obat melalui program rujuk balik, serta pemeriksaan darah setiap enam bulan sekali di laboratorium — tanpa harus datang ke rumah sakit.
Data peserta program ini diperoleh dari rekam kunjungan warga ke puskesmas. BPJS Kesehatan Tanjungpinang mengolah data tersebut lalu menyerahkannya ke puskesmas terkait agar tindak lanjut berupa penyuluhan, pemeriksaan rutin, dan distribusi obat bisa segera dilakukan kepada mereka yang teridentifikasi berisiko.
Grace menegaskan bahwa bagi yang sudah terdiagnosis diabetes, konsistensi mengonsumsi obat adalah kunci agar kondisi tetap stabil. Jika tidak terkontrol, risiko komplikasi ke jantung, paru-paru, ginjal, hingga mata menjadi ancaman nyata. Di sisi lain, komplikasi semacam itu juga berdampak langsung pada membengkaknya beban pembiayaan yang ditanggung program Jaminan Kesehatan Nasional.
Upaya pencegahan sejak dini, menurut Grace, jauh lebih efisien dibanding menangani komplikasi yang sudah terlanjur terjadi — baik dari sisi kesehatan peserta maupun keberlanjutan sistem pembiayaan kesehatan nasional.
Tag: BPJS Kesehatan, diabetes, hipertensi, prolanis, Tanjungpinang