Konsumsi Rumah Tangga Bertahan, tapi Kelompok Menuju Kelas Menengah Mulai Tertekan
2026-08-11 06:13 WIB · aindari · 👁 394 dibaca

Stimulus pemerintah menopang daya beli masyarakat, namun kualitas kredit segmen aspiring middle income memburuk dan menjadi sinyal risiko yang perlu diwaspadai.
Konsumsi rumah tangga Indonesia masih menunjukkan ketahanan pada kuartal II 2026 meski tekanan ekonomi global dan lonjakan harga energi terus berlangsung. Menurut Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, dua faktor utama yang menjaga daya beli adalah inflasi yang relatif terkendali dan keputusan pemerintah mempertahankan subsidi energi. Inflasi tercatat melandai ke level 2,88 persen secara tahunan pada Juli 2026.
Sejumlah kategori belanja mencatat pertumbuhan positif sepanjang periode tersebut. Belanja restoran dan hotel tumbuh paling tinggi, yakni 6,47 persen secara tahunan, diikuti transportasi dan komunikasi sebesar 5,71 persen, serta pakaian 3,52 persen. Faisal menyebut musim libur sekolah, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis, dan ekspansi ekonomi digital turut menjadi penopang, meski laju pertumbuhan konsumsi secara keseluruhan melambat dibanding kuartal sebelumnya.
Dari sisi pembiayaan, kredit perbankan hingga Juni 2026 tumbuh 12,67 persen secara tahunan. Bank-bank Himbara disebut berperan aktif dalam mendukung aktivitas ekonomi sesuai arah kebijakan pemerintah. Namun di balik angka pertumbuhan itu, terdapat sinyal yang perlu dicermati: kredit dengan kolektibilitas bermasalah (kategori 2 hingga 5) tumbuh sekitar 10,3 persen secara nominal, melampaui pertumbuhan kredit lancar yang hanya 5,6 persen.
Tekanan paling nyata terlihat pada segmen kredit perumahan kecil dan menengah. Rasio kredit bermasalah (NPL) rumah kecil melonjak dari 4,29 persen menjadi 6,32 persen, sementara NPL rumah menengah naik dari 2,2 persen menjadi 3,23 persen. Faisal menilai kondisi ini mencerminkan tekanan yang cukup besar pada kelompok aspiring middle income — mereka yang sedang dalam perjalanan menuju kelas menengah dan sebelumnya sudah memiliki akses ke pembiayaan perbankan. Kenaikan harga dan biaya hidup tidak hanya menggerus daya beli kelompok ini, tetapi juga mulai memengaruhi kemampuan mereka memenuhi kewajiban pinjaman.
Untuk menjaga konsumsi tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi, Faisal menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga, memperkuat pendapatan masyarakat, dan memastikan akses pembiayaan tetap sehat. Ia juga mengingatkan bahwa ruang fiskal pemerintah tidak tak terbatas dalam jangka menengah dan panjang. Oleh karena itu, kebijakan pro-pertumbuhan sebaiknya tidak hanya bertumpu pada belanja publik, melainkan juga dirancang agar mampu menarik investasi swasta — atau yang dikenal sebagai efek crowding-in. Pemerintah perlu berhati-hati agar kebijakannya tidak justru menyempitkan ruang gerak sektor swasta melalui efek crowding-out.
Tag: konsumsi rumah tangga, kredit bermasalah, stimulus fiskal, daya beli, aspiring middle income