Rupiah Menguat ke Rp17.755, Ditopang Optimisme Konsumen dan Ekspektasi Suku Bunga AS
2026-08-10 17:12 WIB · aindari · 👁 379 dibaca

Penguatan rupiah 142 poin pada Senin didorong sentimen positif dari Indeks Keyakinan Konsumen yang masih di atas ambang optimisme, meski tren tiga bulan terakhir terus melemah.
Rupiah ditutup menguat signifikan pada perdagangan Senin, naik 142 poin atau 0,79 persen ke level Rp17.755 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.897. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia turut mencerminkan penguatan serupa, bergerak dari Rp17.913 ke Rp17.795 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut salah satu pendorong utama penguatan ini adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 yang dilaporkan Bank Indonesia. Meski angkanya turun menjadi 116,8 dari 117,8 pada Juni — penurunan ketiga berturut-turut — level tersebut masih berada di atas ambang 100, yang secara teknis menandakan konsumen masih berada dalam zona optimistis terhadap kondisi ekonomi.
Namun tren penurunan ini tidak bisa diabaikan. Ibrahim menilai konsumen mulai lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan belanja. Jika pola ini berlanjut, daya tahan konsumsi domestik berpotensi tertekan karena rumah tangga cenderung menahan pengeluaran dan lebih selektif mengalokasikan pendapatan. Perkembangan IKK pada bulan-bulan berikutnya dinilai krusial untuk mengukur seberapa kuat fondasi konsumsi di tengah berbagai tekanan ekonomi.
Dari sisi domestik, sentimen pasar juga mendapat dorongan dari pengajuan resmi Presiden Prabowo Subianto atas nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia definitif kepada DPR. Surat Presiden terkait pencalonan tersebut telah diserahkan kepada pimpinan DPR untuk memproses pengisian posisi kepala bank sentral.
Di front global, dua faktor turut memengaruhi sentimen. Pertama, muncul harapan atas kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz setelah Iran dan Oman disebut berada di tahap akhir negosiasi. Namun Iran menegaskan jalur pelayaran itu baru akan dibuka setelah Amerika Serikat memenuhi sejumlah syarat, termasuk kompensasi atas serangan yang terjadi. Kedua, meredanya kekhawatiran inflasi AS mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Data CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September turun drastis ke sekitar 42 persen, dari sekitar 67 persen sepekan sebelumnya. Angka ketenagakerjaan AS yang lemah turut memperkuat ekspektasi bahwa Fed akan menahan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Perhatian pasar pekan ini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Juli yang dijadwalkan Rabu. Para ekonom memproyeksikan inflasi tahunan sedikit turun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen, dengan CPI Inti juga diperkirakan turun tipis dari 2,6 persen ke 2,5 persen. Hasil data ini berpotensi menjadi penentu arah sentimen pasar terhadap rupiah dalam jangka pendek.
Tag: rupiah, Indeks Keyakinan Konsumen, Bank Indonesia, Federal Reserve, kurs dolar