Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Negara-Negara Teluk Pilih Damai daripada Konflik, Akui Dominasi Iran di Selat Hormuz

2026-08-11 17:12 WIB · aindari · 👁 713 dibaca

Di tengah ketidakpastian penutupan Selat Hormuz, negara-negara Teluk memilih menerima kendali Iran ketimbang memicu perang baru, sementara harga minyak dunia bergejolak.

Negara-negara kawasan Teluk tampaknya memilih jalan pragmatis menghadapi dominasi Iran atas Selat Hormuz — menerima kenyataan itu ketimbang terlibat dalam konflik bersenjata baru yang berpotensi jauh lebih destruktif. Sikap ini muncul di tengah situasi yang belum sepenuhnya terselesaikan antara Iran dan Oman terkait pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut.

Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling vital dalam rantai pasokan energi global. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia melewati jalur sempit ini, sehingga setiap gangguan — apalagi penutupan — langsung memantik kekhawatiran di pasar komoditas internasional.

Ketidakpastian status Selat Hormuz tercermin dari pergerakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak dilaporkan naik hingga sekitar 5 persen, sementara minyak jenis Brent mendekati level 88 dolar AS per barel. Lonjakan ini terjadi seiring belum adanya kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai pembukaan kembali selat tersebut — kondisi yang memunculkan sentimen risiko di kalangan pelaku pasar energi.

Oman selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki jalur komunikasi relatif terbuka dengan Iran, sehingga perannya dalam negosiasi terkait Selat Hormuz menjadi sorotan. Namun hingga kini, kedua pihak belum mencapai kata sepakat, dan ketidakpastian itu terus menekan pasar.

Bagi negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, pilihan untuk tidak mengambil langkah konfrontatif terhadap Iran mencerminkan kalkulasi geopolitik yang kompleks. Perang terbuka di kawasan yang sudah penuh ketegangan ini dianggap membawa risiko jauh lebih besar dibandingkan menerima — meski dengan berat hati — kenyataan bahwa Iran memegang posisi dominan di jalur perairan tersebut.

Dari sisi pasar, analis menilai bahwa selama status Selat Hormuz belum jelas, harga minyak berpotensi tetap volatile. Sentimen ketidakpastian ini bisa mendorong harga lebih tinggi dalam jangka pendek, meski arah sesungguhnya akan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi antara pihak-pihak yang terlibat.

Situasi ini menempatkan komunitas internasional dalam posisi menunggu — apakah negosiasi Iran-Oman akan menghasilkan terobosan, atau ketegangan di salah satu jalur energi tersibuk di dunia itu akan terus berlarut.

Tag: Selat Hormuz, Iran, Harga Minyak, Negara Teluk, Geopolitik Energi