Trump Klaim Kuasai Selat Hormuz Sepenuhnya, Tegaskan Tak Percaya Iran
2026-08-12 13:01 WIB · aindari · 👁 387 dibaca

Presiden AS Donald Trump menyatakan pasukannya mengendalikan Selat Hormuz secara penuh dan memblokir akses kapal menuju Iran, di tengah ketegangan yang belum mereda.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan ketidakpercayaannya terhadap Iran sekaligus mengklaim bahwa militer AS kini memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, usai perjalanan dari Ohio pada Selasa.
Trump menyebut dirinya sebagai orang yang paling tidak mungkin mempercayai Iran, dengan alasan Teheran dinilai terus-menerus tidak jujur kepadanya. Ia tidak merinci insiden spesifik yang dimaksud, namun nada pernyataannya mencerminkan sikap keras yang konsisten terhadap pemerintah Iran.
Soal Selat Hormuz, Trump mengklaim jalur pelayaran strategis itu kini berada di bawah otoritas penuh Amerika Serikat. Sehari sebelumnya, pada Senin, ia sudah menyatakan bahwa kapal-kapal tidak diizinkan memasuki wilayah Iran melalui selat tersebut, sementara akses bagi negara lain tetap dibuka. Trump menegaskan kembali posisi itu dengan menyebut selat itu sebagai milik AS.
Meski demikian, Trump mengakui bahwa Iran masih berpotensi menimbulkan gangguan. Ia menyebut kemungkinan pasukan Iran menjatuhkan ranjau di kawasan selat, namun mengklaim pasukan AS telah menemukan dan membersihkan ranjau-ranjau tersebut di sepanjang jalur perairan itu. Trump juga menyinggung kondisi keuangan Iran yang disebutnya bangkrut sebagai faktor yang membatasi kemampuan Teheran untuk bertindak lebih jauh.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus berlanjut sejak konfrontasi militer antara AS dan Israel di satu sisi melawan Iran dimulai pada akhir Februari. Hingga kini, Washington dan Teheran belum mencapai kesepakatan apa pun untuk mengakhiri konfrontasi tersebut. Situasi ini membuat kondisi di sekitar Selat Hormuz tetap tidak menentu.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global, dan gangguan terhadap pelayaran di sana berpotensi memperburuk rantai pasokan minyak dunia. Ketidakpastian yang berkepanjangan di kawasan ini menjadi perhatian serius bagi pasar energi internasional, mengingat sebagian besar ekspor minyak dari Teluk Persia melewati jalur sempit tersebut.
Iran sebelumnya dilaporkan mengajukan syarat-syarat tertentu terkait pembukaan kembali Selat Hormuz kepada pihak AS, sementara Trump sendiri sebelumnya mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat masih siap meningkatkan eskalasi militer jika diperlukan. Negosiasi antara kedua pihak tampaknya masih jauh dari titik temu.
Tag: Selat Hormuz, Donald Trump, Iran, Timur Tengah, geopolitik energi