Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Daerah

Karhutla Sumsel Tembus 1.926 Hektare, OKU Jadi Wilayah Terparah

2026-08-14 17:02 WIB · aindari · 👁 482 dibaca

Luas kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan melonjak tajam sepanjang Juli 2026 dan diprediksi terus meningkat menjelang puncak musim kemarau.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan tercatat seluas 1.926,2 hektare sepanjang Januari hingga Juli 2026. Angka itu melonjak drastis dibandingkan catatan akhir Juni yang baru menyentuh 664,8 hektare — artinya dalam satu bulan saja lebih dari 1.261 hektare lahan habis terbakar.

Data tersebut bersumber dari analisis citra satelit hasil kerja sama Kementerian Kehutanan dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, menyampaikan hal itu di Palembang pada Jumat. Dari total luasan yang terbakar, sebagian besar terjadi di lahan mineral seluas 1.857,7 hektare, sementara 68,5 hektare sisanya merupakan lahan gambut yang dikenal lebih sulit dipadamkan.

Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi daerah dengan kerusakan terluas, mencapai 516 hektare. Di bawahnya, Banyuasin mencatat 274,4 hektare, Ogan Ilir 272,5 hektare, Ogan Komering Ilir (OKI) 230,3 hektare, serta Musi Banyuasin (Muba) 228 hektare. Muara Enim menyusul dengan 141,9 hektare, diikuti Musi Rawas Utara 111,9 hektare, PALI 57,4 hektare, OKU Selatan 55,2 hektare, dan OKU Timur 23,2 hektare. Wilayah perkotaan seperti Prabumulih, Lahat, dan Palembang mencatat luasan yang jauh lebih kecil, sedangkan Lubuklinggau, Pagar Alam, dan Empat Lawang sama sekali tidak mencatat karhutla.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya pada periode yang sama, angka 2026 merupakan yang tertinggi dalam empat tahun terakhir. Pada 2023 tercatat 1.178,5 hektare, turun menjadi 963,1 hektare pada 2024, lalu naik ke 1.382,4 hektare pada 2025. Meski demikian, angka 2026 masih berada di bawah rekor 2022 yang mencapai 2.445,7 hektare.

Ferdian menegaskan lonjakan ini menjadi peringatan serius, mengingat puncak musim kemarau baru akan berlangsung pada Agustus hingga September. Kondisi di lapangan pun semakin berat: ketersediaan air mulai menipis dan operasi modifikasi cuaca (OMC) belum berjalan optimal karena minimnya awan potensial selama kemarau. Dua faktor itu membuat upaya pemadaman semakin terhambat.

Pihak Kementerian Kehutanan mendorong penguatan langkah pencegahan dan penanganan karhutla secara menyeluruh untuk menghadapi periode kritis dua bulan ke depan. Selain kerugian ekologis, dampak asap karhutla juga telah mempengaruhi kualitas udara di Palembang hingga masuk kategori sangat tidak sehat, sehingga masyarakat di sekitar wilayah terdampak perlu mewaspadai risiko kesehatan yang menyertai.

Tag: karhutla, Sumatera Selatan, musim kemarau, kebakaran lahan, Kementerian Kehutanan