Beijing Desak Tokyo Tinjau Ulang Sejarah Perang Usai Pidato PM Jepang Tuai Kritik
2026-08-18 06:01 WIB · aindari · 👁 547 dibaca
China mengeluarkan kritik keras terhadap pidato Perdana Menteri Jepang dan mendesak Tokyo menghadapi sejarah Perang Dunia II secara jujur.
Ketegangan diplomatik antara China dan Jepang kembali memanas setelah Beijing melayangkan kritik atas pidato Perdana Menteri Jepang yang dinilai tidak mencerminkan pertanggungjawaban memadai atas sejarah perang. Pemerintah China secara resmi mendesak Tokyo untuk meninjau ulang sikapnya terhadap masa lalu, khususnya terkait peran Jepang dalam Perang Dunia II di kawasan Asia.
Ketegangan ini tidak berdiri sendiri. Korea Selatan turut bereaksi atas kunjungan Sanae Takaichi ke Kuil Yasukuni, situs yang dianggap kontroversial karena memuat nama sejumlah tokoh yang diklasifikasikan sebagai penjahat perang kelas A oleh Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh pascaperang. Bagi Beijing dan Seoul, kunjungan pejabat Jepang ke kuil tersebut kerap dibaca sebagai bentuk pengagungan terhadap militerisme masa lalu.
Kontroversi semakin meluas ketika Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi juga dilaporkan melakukan ziarah ke Yasukuni. Langkah seorang menteri pertahanan yang aktif mengunjungi kuil itu dinilai lebih sensitif secara politis dibanding kunjungan pejabat lain, mengingat posisinya yang langsung berkaitan dengan kebijakan keamanan dan militer Jepang. Hal ini kembali memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara Asia Timur yang pernah berada di bawah pendudukan Jepang.
Momen ini bertepatan dengan peringatan 81 tahun menyerahnya Jepang tanpa syarat dalam Perang Dunia II, sebuah tanggal yang setiap tahunnya menjadi titik sensitif dalam hubungan Jepang dengan para tetangganya di Asia. Peringatan tersebut kerap diwarnai perdebatan tentang bagaimana Jepang seharusnya memandang dan mengakui warisan sejarah konflik itu.
China menegaskan bahwa rekonsiliasi sejati di kawasan hanya bisa terwujud apabila Jepang bersedia menghadapi sejarah perang secara terbuka dan bertanggung jawab. Seruan ini bukan pertama kalinya disampaikan Beijing, namun konteks pidato PM Jepang dan rangkaian kunjungan ke Yasukuni membuat tekanan kali ini terasa lebih kuat secara diplomatik.
Hubungan China-Jepang dan Korea Selatan-Jepang selama ini memang kerap terganjal oleh persoalan sejarah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Isu Yasukuni, pengakuan atas kekejaman perang, hingga sengketa wilayah menjadi lapisan-lapisan kompleks yang membuat normalisasi hubungan di Asia Timur berjalan lambat. Reaksi Beijing dan Seoul kali ini mencerminkan betapa luka sejarah masih menjadi variabel aktif dalam dinamika geopolitik kawasan.
Tag: China, Jepang, Kuil Yasukuni, Sejarah Perang, Asia Timur