Kemenperin Dorong IKM Masuk Rantai Pasok Motor Listrik Nasional
2026-08-18 17:05 WIB · aindari · 👁 305 dibaca
Dua IKM binaan Kemenperin sudah berhasil memasok komponen boks dan bracket baterai untuk motor listrik nasional Alva.
Kementerian Perindustrian menetapkan target baru dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik: industri kecil dan menengah (IKM) harus mampu masuk dan bertahan dalam rantai pasok motor listrik nasional (molinas), bukan sekadar mendapat pembinaan. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pengembangan kendaraan listrik di Indonesia harus memberi efek berganda bagi seluruh lapisan industri nasional, termasuk pelaku usaha skala kecil.
Menurut Agus, ukuran keberhasilan pembinaan IKM bukan jumlah peserta yang dibina, melainkan seberapa banyak yang akhirnya memenuhi kualifikasi sebagai pemasok, masuk ke rantai pasok, dan memperoleh pesanan secara berkelanjutan. Penguatan kapasitas produksi saja dinilai tidak cukup — IKM harus diarahkan agar mampu memenuhi standar yang ditetapkan industri besar dan produsen kendaraan asli (OEM).
Langkah ini sudah mulai membuahkan hasil. Dua IKM binaan Kemenperin, PT Kannindo Metal Industri dan PT Multikon Rekatama Industri, berhasil masuk dalam ekosistem pendukung molinas yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026 di Cikarang, Jawa Barat. Keduanya kini memproduksi komponen boks baterai dan bracket baterai untuk molinas Alva, yang berada di bawah PT Electra Mobilitas Indonesia.
Kemenperin menjalankan pendekatan yang disebut supplier development — pembinaan IKM didasarkan pada kebutuhan nyata industri besar dan OEM, bukan sekadar peningkatan kapasitas umum. Prosesnya mencakup identifikasi IKM potensial, peningkatan teknologi dan kualitas, pengembangan prototipe, pengujian, sertifikasi, hingga asesmen kesiapan pemasok untuk mengetahui celah yang masih perlu diperkuat. Direktorat Jenderal IKMA menjadi ujung tombak pelaksanaan program ini.
Agus menjelaskan bahwa OEM dan pemasok tingkat pertama (tier-1) menyampaikan kebutuhan serta standar komponen kepada pemerintah, yang kemudian merancang pembinaan untuk menutup kesenjangan tersebut — mencakup penguatan teknologi, sumber daya manusia, kualitas produk, standardisasi, dan akses pengujian. Kemenperin juga menyelenggarakan business matching yang tidak hanya mempertemukan IKM dengan industri besar, tetapi juga mencakup penyampaian spesifikasi teknis hingga proses kualifikasi pemasok.
Dalam hal jenis komponen, Kemenperin membagi peran IKM berdasarkan tingkat kemampuan. IKM pada tahap awal dapat berkontribusi melalui produksi komponen berbasis logam, plastik, karet, jok, bracket, housing, sheet metal, fastener, dan wiring harness. Sementara IKM dengan kemampuan engineering lebih tinggi diarahkan ke komponen bernilai tambah lebih besar, seperti battery housing, motor housing, precision machining, komponen kelistrikan, hingga pendukung battery pack dan power electronics.
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menambahkan bahwa kemitraan antara IKM dengan industri besar, OEM, dan tier-1 menjadi instrumen kunci untuk mempercepat integrasi IKM ke dalam rantai pasok kendaraan listrik nasional. Keberhasilan dua IKM dalam memasok komponen molinas dinilai sebagai bukti bahwa industri kecil nasional memiliki peluang nyata untuk mengambil peran lebih luas dalam ekosistem kendaraan listrik yang sedang berkembang.
Tag: motor listrik, IKM, rantai pasok, Kemenperin, molinas