GMF Selesaikan Perawatan Berat Hercules C-130H, Indonesia Mulai Mandiri Urus Alutsista Sendiri
2026-08-19 17:03 WIB · aindari · 👁 668 dibaca
PT GMF AeroAsia berhasil merampungkan modernisasi pesawat angkut militer Hercules C-130H TNI AU, menandai babak baru kemandirian industri pertahanan dalam negeri.
Indonesia mencatat tonggak penting dalam upaya membangun kemandirian pertahanan. PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) resmi menyerahkan pesawat angkut Hercules C-130H bernomor registrasi A-1319 kepada Kementerian Pertahanan setelah menuntaskan proses modernisasi kelas berat di hanggar Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Rabu.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyebut keberhasilan ini sebagai garis awal modernisasi armada pesawat angkut TNI Angkatan Udara. Menurutnya, capaian tersebut membuktikan bahwa Indonesia kini mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista), khususnya di sektor penerbangan militer. Keberhasilan itu tidak lepas dari kerja sama transfer teknologi antara GMF dan Lockheed Martin, perusahaan Amerika Serikat yang memproduksi Hercules.
Proses yang dikerjakan GMF pada pesawat A-1319 bukan sekadar perawatan rutin. Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi mengungkapkan bahwa pesawat ini menjalani modifikasi besar yang mencakup penggantian center wing box, pembaruan sistem avionik, serta program integritas struktural. Seluruh pekerjaan mengacu pada standar yang ditetapkan Indonesia Defence Airworthiness Authority (IDAA) dan telah melalui serangkaian proses sertifikasi kelaikan. Hasilnya, usia operasional pesawat diperkirakan dapat diperpanjang hingga 15 sampai 20 tahun ke depan.
Andi menambahkan bahwa pesawat A-1319 ini merupakan prototipe pertama yang menjalani modifikasi besar di luar fasilitas Lockheed Martin, menjadikannya istimewa secara historis. Keberhasilan proyek ini, kata dia, merupakan buah sinergi antara Kementerian Pertahanan, TNI AU, GMF, Lockheed Martin, dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), mulai dari transfer teknologi, penyediaan komponen, pelatihan, hingga pelaksanaan uji terbang penerimaan.
Sjafrie berharap momentum ini tidak berhenti pada satu pesawat. Ia mendorong GMF dan PT DI untuk terus meningkatkan kapabilitas sehingga ke depan keduanya mampu menangani perawatan berat berbagai jenis alutsista udara lain, termasuk pesawat tempur dan pesawat intai. Ambisi itu sejalan dengan rencana pembangunan fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) khusus Hercules di Bandara Kertajati, Jawa Barat, yang digadang-gadang akan menjadi fasilitas perawatan Hercules terbesar di Asia. GMF diharapkan menjadi pemain utama dalam pengembangan fasilitas tersebut.
"Ini adalah pekerjaan yang akan kita kerjakan pada tahun ini dan tahun-tahun berikutnya," ujar Sjafrie, menegaskan bahwa program kemandirian alutsista bukan proyek sekali jalan, melainkan agenda jangka panjang yang akan terus bergulir. GMF sendiri menyatakan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan dan menghadirkan layanan MRO yang lebih terintegrasi demi mendukung kesiapan operasional TNI AU.
Tag: Hercules C-130H, GMF AeroAsia, alutsista, MRO Kertajati, industri pertahanan