Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Saling Klaim Wilayah, Trump Sebut Selat Hormuz Milik AS — Iran Balas dengan 'Aneksasi' California

2026-08-21 06:09 WIB · aindari · 👁 445 dibaca

Ketegangan retorika AS-Iran memanas setelah Trump mengklaim kendali atas Selat Hormuz, dibalas Iran dengan menyebut California sebagai 'wilayah baru' mereka.

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah di bawah kendali Amerika Serikat memicu respons balasan dari Iran. Teheran menanggapi klaim tersebut dengan menyebut negara bagian California sebagai 'wilayah baru' Iran — sebuah sindiran yang jelas ditujukan untuk mengejek logika klaim Trump.

Selat Hormuz adalah jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Jalur ini merupakan salah satu titik paling vital dalam perdagangan energi global, karena sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk melewati perairan tersebut. Klaim Trump atas selat ini langsung menarik perhatian internasional dan memantik berbagai reaksi.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut angkat bicara, menegaskan pentingnya kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Pernyataan Rubio mencerminkan posisi Washington yang ingin memastikan akses terbuka bagi kapal-kapal internasional di jalur strategis itu, sekaligus memperkuat narasi bahwa AS memiliki kepentingan langsung di sana.

Sementara itu, Rusia memilih merespons klaim Trump dengan nada sarkastis. Moskow menyebut pernyataan Trump soal Selat Hormuz sebagai 'humor istimewa', menandakan bahwa klaim tersebut tidak dianggap serius oleh sekutu-sekutu Iran di panggung geopolitik global.

Di tengah ketegangan retorika ini, Trump juga dilaporkan mengancam akan mengebom Oman apabila negara tersebut mengganggu proses negosiasi yang tengah berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran. Ancaman ini menambah kompleksitas situasi diplomatik di kawasan, mengingat Oman selama ini dikenal sebagai salah satu mediator tidak resmi dalam hubungan AS-Iran.

Saling lempar klaim wilayah antara Washington dan Teheran ini terjadi di tengah proses negosiasi yang masih berjalan antara kedua negara. Ketegangan semacam ini berpotensi mempengaruhi sentimen pasar energi global, mengingat Selat Hormuz adalah urat nadi distribusi minyak dunia. Gangguan atau eskalasi di kawasan tersebut kerap menjadi faktor risiko yang diperhitungkan pelaku pasar komoditas.

Sejauh ini, saling sindir antara AS dan Iran tampak lebih bersifat perang retorika ketimbang konfrontasi nyata. Namun, dengan ancaman militer yang ikut dilontarkan dan posisi Rusia yang memilih berpihak pada narasi Iran, dinamika ini menunjukkan bahwa ketegangan diplomatik di sekitar Selat Hormuz masih jauh dari mereda.

Tag: Selat Hormuz, Donald Trump, Iran, Amerika Serikat, Geopolitik