Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Kementerian ESDM Latih Perusahaan Tambang China soal Kepatuhan Regulasi Indonesia

2026-08-24 06:04 WIB · aindari · 👁 426 dibaca

Sebanyak 50 peserta dari lebih 20 perusahaan mengikuti pelatihan kebijakan pertambangan yang digelar Kementerian ESDM bersama PT Zishan Tambang Indonesia.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT Zishan Tambang Indonesia menggelar sesi kedua pelatihan Kebijakan Pertambangan dan Kepatuhan Regulasi di Indonesia, yang difasilitasi oleh Badan Geologi dan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Geominerba. Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari sesi pertama yang diselenggarakan pada April tahun ini, dengan materi yang telah diperbarui berdasarkan masukan peserta sebelumnya.

Sebanyak 50 peserta asal China dan Indonesia yang mewakili lebih dari 20 perusahaan hadir bersama pejabat pemerintah dan pakar industri. Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat komunikasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan kalangan akademisi di sektor pertambangan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Dr. Tri Winarno, dalam sambutan pembukaannya menyebut sektor pertambangan secara konsisten menyumbang 8 hingga 12 persen terhadap PDB Indonesia, dengan China sebagai salah satu sumber investasi utama. Ia menegaskan bahwa kerja sama yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar modal — kepercayaan timbal balik, pemahaman regulasi, komunikasi efektif, dan komitmen jangka panjang menjadi faktor yang sama pentingnya.

Salah satu fokus utama pelatihan adalah membantu perusahaan menavigasi kompleksitas perizinan lintas instansi. Mendapatkan izin dari Kementerian ESDM hanyalah pintu masuk; perusahaan masih harus memenuhi persetujuan dari berbagai kementerian dan lembaga lain yang mencakup tata ruang, penggunaan lahan, perlindungan lingkungan, kawasan hutan, hingga ketentuan investasi. Pejabat dari instansi terkait dihadirkan langsung untuk menjelaskan kerangka hukum, prosedur perizinan, perencanaan operasional, serta kebijakan hilirisasi.

Perwakilan Norin Mining, Duan, menyampaikan bahwa pelatihan ini membantu perusahaannya mengelola kepatuhan secara lebih sistematis. Ia juga menggarisbawahi bahwa pengelolaan dan pemantauan lingkungan bukan semata kewajiban regulasi, melainkan bentuk tanggung jawab jangka panjang terhadap pemerintah dan masyarakat setempat. Sementara itu, Radianto dari PT Dairi Prima Mineral — perusahaan patungan antara NFC (China) dan BRMS (Indonesia) yang menggarap proyek tambang timbal-seng — menekankan pentingnya program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM) sebagai kunci keberhasilan operasi tambang di Indonesia. Salah satu wujud nyata program PPM tersebut adalah budidaya kopi di sekitar wilayah tambang, yang hasilnya bahkan disajikan langsung dalam pelatihan ini.

Pelatihan ini juga menyoroti tantangan Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam pengembangan mineral kritis, yang menuntut standar lebih ketat dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab. Usai pelatihan, perwakilan perusahaan tambang China dan Indonesia bersama tamu dari Kementerian ESDM, Kementerian Luar Negeri, KADIN, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), dan Neo Energy menghadiri sesi networking untuk mempererat hubungan dan membangun konsensus kerja sama investasi ke depan.

Tag: pertambangan, investasi China, regulasi ESDM, kepatuhan lingkungan, hilirisasi mineral