Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Indonesia Mulai Bangun PLTS 100 GWp, Prabowo Minta Rampung Dua Tahun

2026-08-25 17:31 WIB · aindari · 👁 581 dibaca

Presiden Prabowo resmi meluncurkan program tenaga surya terbesar Indonesia dengan target ambisius kemandirian energi nasional.

Indonesia memasuki babak baru transisi energi setelah Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) pada Selasa di Kabupaten Jembrana, Bali. Peluncuran sekaligus peletakan batu pertama dilakukan di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, Gilimanuk — menandai dimulainya proyek energi terbarukan terbesar yang pernah dicanangkan pemerintah Indonesia.

Tahap awal program ini mencakup pembangunan 14 PLTS dengan total kapasitas 5,3 GWp yang tersebar di enam provinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Meski target resmi penyelesaian keseluruhan program ditetapkan tiga tahun, Prabowo secara terbuka menantang tim energinya untuk merampungkan seluruh kapasitas 100 GWp dalam dua tahun saja.

Di Bali, proyek yang menjadi penanda peluncuran adalah PLTS Gilimanuk berkapasitas 300 megawatt peak (MWp). Fasilitas ini dirancang dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 1.000 megawatt hour (MWh), dengan nilai investasi sekitar Rp6,057 triliun. Berdasarkan data PT PLN (Persero), PLTS Gilimanuk diproyeksikan menghasilkan energi sekitar 470 gigawatt hour per tahun dan berpotensi menghemat konsumsi bahan bakar minyak hingga 151 ribu kiloliter setiap tahunnya. Secara keseluruhan, Bali ditargetkan memiliki kapasitas PLTS sebesar 1.000 MWp yang ditopang BESS berkapasitas 3.300 MWh.

Prabowo menegaskan program ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari strategi besar mewujudkan kemandirian energi nasional. Ia menyebut pencapaian 100 GWp akan membuat Indonesia tidak lagi rentan terhadap gejolak energi global. Program PLTS ini juga dipadukan dengan pengembangan panas bumi, penemuan ladang gas baru, serta peningkatan produksi minyak dalam negeri — semuanya diarahkan untuk menekan ketergantungan Indonesia pada impor energi fosil.

Untuk memastikan realisasi target tersebut, Presiden menginstruksikan Kabinet Merah Putih, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), PT PLN (Persero), dan PT Pertamina (Persero) agar bergerak cepat dan terkoordinasi. Program PLTS 100 GWp sendiri masuk dalam Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air, yang menjadi salah satu pilar utama agenda pemerintahan Prabowo dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis fosil.

Tag: PLTS, energi terbarukan, Prabowo Subianto, kemandirian energi, PLN