Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Stok BBM Distilat AS Sentuh Rekor Terendah Agustus, Harga Diesel Melonjak 52 Persen

2026-08-28 06:07 WIB · aindari · 👁 409 dibaca

Cadangan bahan bakar distilat Amerika Serikat menyusut ke level paling rendah untuk bulan Agustus sejak pencatatan mingguan EIA dimulai empat dekade lalu, mendorong harga diesel eceran melampaui 5,60 dolar AS per galon.

Cadangan bahan bakar distilat Amerika Serikat mencatat rekor terendah untuk bulan Agustus dalam sejarah pencatatan mingguan Administrasi Informasi Energi (EIA) yang dimulai sejak 1982. Data pemerintah yang dipublikasikan Rabu (26/8) menunjukkan stok distilat menyusut 2,2 juta barel dalam sepekan yang berakhir 21 Agustus, menjadi 103,4 juta barel.

Angka tersebut berada sekitar 14 persen di bawah rata-rata lima tahun untuk periode yang sama, sekaligus 9,5 persen lebih rendah dibanding posisi setahun sebelumnya. Meski sempat menyentuh titik lebih rendah pada akhir Mei di kisaran 100,8 juta barel, stok kemudian pulih sebagian pada Juni dan Juli sebelum kembali tertekan.

Penurunan pasokan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan tajam harga eceran diesel. Menurut data American Automobile Association, rata-rata harga diesel nasional pada Selasa (25/8) mencapai 5,62 dolar AS per galon — naik lebih dari 52 persen dibanding harga sekitar 3,70 dolar AS per galon pada periode yang sama tahun lalu. Dengan kurs sekitar Rp17.754 per dolar AS, harga tersebut setara dengan lebih dari Rp99.700 per galon.

Bahan bakar distilat mencakup solar yang menggerakkan truk, kereta api, dan mesin pertanian, serta minyak pemanas untuk musim dingin. EIA mencatat bahwa permintaan komoditas ini cenderung meningkat menjelang panen musim gugur dan memasuki musim dingin, sehingga tekanan pada pasokan berpotensi semakin besar dalam beberapa bulan ke depan.

Di sisi produksi, kilang-kilang AS beroperasi pada kapasitas tinggi, yakni 97,4 persen dari kapasitas yang dapat dioperasikan, dengan rata-rata produksi distilat sekitar 5,1 juta barel per hari. Meski demikian, output domestik tampaknya belum cukup mengimbangi ketatnya pasar global.

Dalam laporan prospek energi jangka pendek edisi Agustus, EIA menyoroti pengetatan pasar produk olahan di tingkat global. Dua faktor utama yang disebut adalah berkurangnya ekspor produk olahan dari Rusia serta meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz yang menghambat distribusi dari kilang-kilang Arab Saudi dan Kuwait. Kondisi geopolitik ini menjadi risiko tambahan yang dapat memperburuk ketimpangan antara pasokan dan permintaan distilat, baik di pasar domestik AS maupun global.

Tag: BBM distilat, harga diesel, EIA, energi Amerika Serikat, pasokan minyak