Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Lebih dari Seribu Proyektil Melayang di Lebanon Selatan dalam Sepekan, UNIFIL Peringatkan Situasi Masih Rapuh

2026-08-29 17:05 WIB · aindari · 👁 736 dibaca

Pasukan penjaga perdamaian PBB mencatat rata-rata 147 proyektil per hari di Lebanon selatan sepanjang 21–27 Agustus, sementara korban jiwa sejak Maret terus bertambah.

Misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) melaporkan tercatatnya 1.030 lintasan proyektil di wilayah Lebanon selatan dalam rentang tujuh hari, yakni 21 hingga 27 Agustus. Angka itu setara dengan sekitar 147 proyektil setiap harinya. Laporan tersebut disampaikan UNIFIL melalui platform media sosial X pada Jumat, 28 Agustus.

Meski UNIFIL mengakui intensitas kekerasan saat ini lebih rendah dibanding awal tahun, misi itu menegaskan kondisi di lapangan masih jauh dari stabil. Warga sipil disebut terus menanggung beban konflik yang berkepanjangan — rumah-rumah rusak, infrastruktur vital terdampak, dan pemulihan komunitas lokal belum menunjukkan kemajuan berarti.

Dalam pernyataannya, UNIFIL menekankan pentingnya komitmen semua pihak terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 sebagai kunci untuk meredam ketegangan dan memulihkan stabilitas. Resolusi yang diadopsi pada 2006 itu lahir setelah perang 33 hari antara militer Israel dan Hizbullah. Isinya mencakup seruan penghentian penuh permusuhan serta pembentukan zona demiliterisasi antara Sungai Litani dan Garis Biru — batas pemisah Lebanon dan Israel — yang hanya boleh diisi oleh tentara Lebanon dan pasukan UNIFIL.

Di tengah situasi tersebut, militer Israel pada hari yang sama justru mengintensifkan operasinya. Serangan dilaporkan menyasar tiga kota sekaligus, dengan pasukan Israel bergerak maju menuju kawasan Aita al-Jabal dan memicu kebakaran di beberapa titik. Tembakan artileri juga dilaporkan menghujani sejumlah wilayah di sekitarnya.

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat dua orang tewas dan delapan lainnya luka-luka dalam dua hari terakhir. Secara kumulatif, sejak serangan Israel di Lebanon selatan dimulai pada 2 Maret, total korban telah mencapai 4.352 jiwa meninggal dan 12.318 orang terluka.

Kehadiran militer Israel di sebagian wilayah Lebanon selatan sendiri bukan hal baru — beberapa posisi telah mereka duduki selama puluhan tahun. Pada rangkaian pertempuran 2023 dan 2024, pasukan Israel bahkan memperluas jangkauannya beberapa kilometer lebih jauh ke dalam wilayah Lebanon.

Di sisi lain, mandat UNIFIL dijadwalkan berakhir pada akhir tahun ini, dan perdebatan soal kelanjutan misi tersebut masih berlangsung. Pemerintah Lebanon menyatakan tetap menginginkan kehadiran UNIFIL di selatan guna menjaga stabilitas kawasan, sementara UNIFIL sendiri menyatakan terus memantau perkembangan lapangan dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait demi mencegah eskalasi lebih lanjut.

Tag: UNIFIL, Lebanon Selatan, Israel, Konflik Lebanon, Resolusi PBB 1701