Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Cadangan Devisa RI Terlemah di ASEAN, Ekonom Desak Kebijakan Berorientasi Ekspor

2026-08-31 06:13 WIB · aindari · 👁 434 dibaca

Ekonom senior menilai dominasi ekonomi domestik membuat rupiah rentan dan cadangan devisa Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara tetangga.

Cadangan devisa Indonesia yang tercatat sekitar 145,3 miliar dolar AS pada akhir Juli 2026 dinilai terlalu kecil untuk negara sebesar Indonesia. Ekonom Senior Didik J Rachbini menyebut angka itu tidak sebanding dengan Singapura yang menyimpan sekitar 426,2 miliar dolar AS, maupun Thailand yang cadangan devisanya mencapai sekitar 279,2 miliar dolar AS — hampir dua kali lipat milik Indonesia. Bahkan Malaysia, dengan jumlah penduduk jauh lebih sedikit, memiliki cadangan sekitar 132,6 miliar dolar AS.

Menurut Didik, kesenjangan ini bukan kebetulan, melainkan cerminan dari struktur ekonomi Indonesia yang terlalu berorientasi ke dalam. Ketika transaksi ekonomi berputar di pasar domestik, yang dihasilkan hanyalah perputaran rupiah — bukan pemasukan devisa segar. Aktivitas itu memang menciptakan lapangan kerja, menguntungkan perusahaan, dan mendorong pertumbuhan PDB, tetapi tidak memperkuat fondasi nilai tukar.

Di sinilah Didik menekankan perlunya pergeseran orientasi kebijakan ekonomi ke arah luar negeri. Indonesia, menurutnya, membutuhkan lebih banyak transaksi bisnis yang menghasilkan pendapatan dari pasar internasional, serta kebijakan yang secara serius mendorong ekspor demi mendatangkan cadangan devisa dalam jumlah besar. Tanpa fondasi itu, Bank Indonesia dinilai akan terus kesulitan menstabilkan rupiah meski mengandalkan instrumen suku bunga sekalipun.

Ekspor komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel memang menjadi sumber devisa yang signifikan. Namun Didik mengingatkan bahwa ketergantungan pada komoditas mentah atau setengah jadi membawa risiko tersendiri: pendapatan devisa sangat bergantung pada harga global yang berfluktuasi. Saat harga komoditas turun, penerimaan devisa menyusut, sementara kebutuhan impor barang modal dan bahan baku tetap berjalan — kondisi yang menekan nilai tukar.

Sisi investasi asing pun menjadi persoalan tersendiri. Didik menyebut sejumlah faktor yang membuat investor ragu masuk ke Indonesia, antara lain persoalan korupsi, ketidakpastian hukum, dan tingginya biaya transaksi. Padahal investasi asing langsung berpotensi mendatangkan devisa segar. Jika negara lain menawarkan iklim bisnis yang lebih kondusif dan kepastian hukum yang lebih kuat, dana investasi berpotensi berpindah ke sana.

Berdasarkan penilaian menyeluruh terhadap sektor moneter, riil, domestik, dan eksternal, Didik memperkirakan Bank Indonesia akan menghadapi tantangan berat dalam lima tahun ke depan untuk membawa rupiah ke level yang lebih stabil dan kuat. Reformasi struktural ke arah ekonomi yang lebih berorientasi ekspor dan ramah investasi asing disebut sebagai kunci yang tidak bisa ditunda.

Tag: cadangan devisa, rupiah, ekspor, investasi asing, kebijakan ekonomi