Ketegangan AS-Iran dan Sinyal Hawkish The Fed Tekan Rupiah ke Rp17.722
2026-08-31 17:03 WIB · aindari · 👁 463 dibaca

Rupiah ditutup melemah 29 poin pada Senin akibat eskalasi konflik militer di Selat Hormuz dan pernyataan Ketua The Fed yang memicu spekulasi kenaikan suku bunga.
Rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Senin, melemah 29 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.722 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp17.693. Pelemahan serupa terjadi pada kurs referensi JISDOR Bank Indonesia yang bergerak ke Rp17.746 per dolar AS, naik dari Rp17.703 pada hari sebelumnya.
Dua sentimen utama menekan rupiah sekaligus pada hari ini: memanasnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran, serta nada kebijakan moneter yang semakin ketat dari bank sentral AS. Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menilai kedua faktor tersebut secara bersamaan mendorong pelaku pasar beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
Di front geopolitik, pasukan AS dilaporkan menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran, yang berlokasi di Selat Hormuz, pada Minggu (30/8/2026). Serangan itu disebut sebagai yang pertama dilakukan Amerika terhadap Iran sejak akhir Juli. Iran membalas dengan menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, berdasarkan laporan media Iran yang mengutip pernyataan Garda Revolusi. Upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik dilaporkan menemui jalan buntu, sementara para mediator masih berupaya membuka kembali Selat Hormuz — jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang meletus pada akhir Februari 2026.
Dari sisi kebijakan moneter AS, pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole turut mempengaruhi sentimen pasar. Warsh menegaskan bahwa prioritas utama The Fed saat ini adalah stabilitas harga dan masih ada pekerjaan yang belum selesai untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen. Pernyataan itu mendorong pasar meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan September.
Warsh juga menyatakan bahwa kondisi keuangan saat ini sulit dikategorikan sebagai kondisi yang restriktif, mengingat pasar kredit dan pinjaman hanya menunjukkan sedikit tanda pengetatan kebijakan moneter. Pernyataan bernada hawkish ini berpotensi memperkuat dolar AS lebih lanjut dan menjadi risiko tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dalam waktu dekat.
Tag: rupiah, dolar AS, konflik AS-Iran, Federal Reserve, Selat Hormuz