Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Teknologi

Survei Jepang: Remaja Paling Skeptis soal Pembatasan Usia di Media Sosial

2026-09-01 06:11 WIB · aindari · 👁 740 dibaca

Hasil survei pemerintah Jepang menunjukkan kesenjangan pandangan antargenerasi soal regulasi media sosial untuk anak-anak.

Sebuah survei berskala besar yang dirilis pemerintah Jepang mengungkap bahwa mayoritas warga berusia 15 hingga 39 tahun mendukung pembatasan akses media sosial bagi anak-anak — namun kelompok remaja tercatat paling sedikit memberikan dukungan dibanding kelompok usia lainnya.

Survei daring yang digelar mulai 20 Mei itu merupakan yang pertama kali dilakukan oleh Badan Anak dan Keluarga Jepang. Sebanyak sekitar 100.000 responden laki-laki dan perempuan dari seluruh Jepang, semuanya berusia di bawah 40 tahun, ikut berpartisipasi. Badan tersebut kemudian merilis hasil sementara berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin.

Di semua segmen yang disurvei, tingkat dukungan terhadap pembatasan melampaui angka 50 persen. Dukungan tertinggi datang dari perempuan berusia 35 hingga 39 tahun, dengan 71,7 persen menyatakan setuju atau cenderung setuju. Pada kelompok laki-laki di rentang usia yang sama, angkanya mencapai 56,4 persen. Secara umum, responden perempuan di setiap kelompok usia menunjukkan tingkat dukungan yang lebih tinggi dibanding laki-laki.

Sebaliknya, dukungan paling rendah tercatat pada kelompok usia 15 hingga 19 tahun — 53,2 persen untuk laki-laki dan 59,7 persen untuk perempuan. Lebih mencolok lagi, di antara responden yang tepat berusia 15 tahun, tingkat dukungan bahkan turun di bawah 50 persen, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Pola ini memperlihatkan bahwa semakin muda usia responden, semakin kecil kecenderungan mereka mendukung regulasi tersebut.

Survei juga menyoroti sisi psikologis penggunaan media sosial di kalangan muda. Temuan menunjukkan bahwa kelompok usia yang lebih muda lebih rentan merasa tidak nyaman atau rendah diri setelah melihat unggahan tentang kehidupan orang lain. Di kelompok usia 15 hingga 19 tahun, 45,4 persen laki-laki dan 58,4 persen perempuan mengaku pernah mengalami perasaan semacam itu.

Hasil survei ini diperkirakan akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam proses perumusan kebijakan ke depan. Sebelumnya, pada Juli lalu, panel ahli dari badan yang sama telah menerbitkan laporan sementara yang merekomendasikan agar pembahasan soal kemungkinan penerapan batas usia seragam untuk penggunaan media sosial perlu diperdalam dan diperluas.

Tag: media sosial, regulasi digital, remaja Jepang, perlindungan anak, survei