Volatile Food Jadi Tantangan Utama, BI dan Pemerintah Genjot Koordinasi Kendalikan Inflasi Pangan
2026-09-01 17:02 WIB · aindari · 👁 424 dibaca
Kenaikan inflasi komponen harga bergejolak dari kisaran 2 persen ke 4 persen mendorong Bank Indonesia dan pemerintah mempererat sinergi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah.
Bank Indonesia (BI) mengakui tekanan inflasi saat ini paling besar datang dari komponen harga pangan bergejolak atau volatile food, bukan dari inflasi inti. Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti, menyebut lonjakan pada komponen tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan secara kolektif antara bank sentral, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah.
Destry menjelaskan, inflasi inti saat ini justru menunjukkan tren positif, naik tipis dari 2,7 persen ke 2,9 persen — sinyal adanya peningkatan aktivitas ekonomi. Namun di sisi lain, volatile food melonjak dari kisaran 2 persen ke angka 4 persen, sehingga menjadi fokus penanganan yang mendesak. Ia menegaskan bahwa pengendalian harga pangan tidak bisa hanya bertumpu pada instrumen moneter bank sentral, melainkan membutuhkan intervensi dari sisi pasokan oleh pemerintah.
Salah satu mekanisme koordinasi yang diandalkan adalah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), yang mempertemukan BI dengan pemerintah daerah dalam merancang dan menjalankan program stabilisasi harga pangan di tingkat lokal. Destry menyampaikan hal ini saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat kekhawatiran tersebut. Pada Agustus 2026, Indonesia mencatat inflasi bulanan sebesar 0,21 persen, tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,73 pada Juli menjadi 111,97. Dari angka inflasi itu, komponen volatile food menyumbang andil terbesar, yakni 0,15 persen, dengan inflasi kelompok tersebut mencapai 0,88 persen. Komoditas yang paling berpengaruh adalah daging ayam ras dengan andil 0,17 persen, disusul cabai rawit, ikan segar, dan beras yang masing-masing menyumbang 0,02 persen. Sejumlah komoditas lain seperti kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, dan semangka turut memberikan andil masing-masing sebesar 0,01 persen.
Inflasi inti pada periode yang sama tercatat 0,21 persen dengan andil 0,13 persen terhadap inflasi umum. Komoditas pendorongnya antara lain emas perhiasan, pelumas mesin, telepon seluler, dan biaya kuliah perguruan tinggi. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah justru mencatat deflasi 0,33 persen, terutama karena penurunan tarif angkutan udara yang memberi andil deflasi 0,06 persen dan harga bensin sebesar 0,03 persen. Kelompok transportasi secara keseluruhan mengalami deflasi 0,50 persen.
Kondisi ini menempatkan stabilitas harga pangan sebagai prioritas kebijakan jangka pendek. Dengan volatile food yang dipengaruhi langsung oleh ketersediaan pasokan dan dinamika harga komoditas, efektivitas koordinasi antarlembaga melalui TPID akan menjadi penentu apakah tekanan inflasi dari sisi pangan dapat diredam dalam waktu dekat.
Tag: inflasi pangan, Bank Indonesia, volatile food, TPID, BPS