Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

Pakar Unud: Rusaknya Hutan Mangrove Bisa Musnahkan 65 Persen Kehidupan Laut

2026-09-02 17:04 WIB · aindari · 👁 868 dibaca

Kerusakan ekosistem mangrove bukan sekadar soal lingkungan—ia mengancam kelangsungan hidup biota laut sekaligus memperlemah pertahanan alami daratan dari bencana.

Ekosistem mangrove menyimpan peran jauh lebih besar dari yang selama ini dipahami masyarakat umum. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, menegaskan bahwa kerusakan hutan mangrove berpotensi memicu kepunahan berbagai biota laut sekaligus menghilangkan pelindung alami daratan dari ancaman bencana geologi. Pernyataan itu disampaikannya di kawasan Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Bali, pada Rabu.

Menurut Dewa, mangrove berfungsi sebagai garis pertahanan pertama yang meredam dampak gempa tektonik, likuifaksi, hingga tsunami sebelum gelombang energi bencana mencapai daratan. Tanpa keberadaan ekosistem ini, kawasan pesisir menjadi jauh lebih rentan terhadap kerusakan masif. Ia menekankan bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar keanekaragaman hayati, melainkan keselamatan manusia itu sendiri.

Di sisi ekologi laut, mangrove menopang sekitar 65 persen kehidupan di lautan. Berbagai spesies seperti ikan, udang, dan kepiting bakau menggantungkan siklus hidupnya pada ekosistem ini—mulai dari tempat bertelur hingga sumber pakan. Ketika mangrove hancur, rantai kehidupan laut ikut terputus dan kepunahan spesies menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

Mangrove juga memainkan peran penting dalam penyerapan karbon biru atau blue carbon. Karbon dioksida yang dihasilkan aktivitas ekosistem laut, termasuk dari fitoplankton, diserap secara optimal oleh berbagai jenis tanaman mangrove seperti bakau, api-api, dan prapat. Fungsi ini menjadikan mangrove salah satu penyeimbang iklim yang tidak tergantikan di kawasan pesisir.

Menyadari vitalnya peran tersebut, Fakultas Pertanian Unud dalam tiga tahun terakhir telah menggeser fokus risetnya ke tanaman pesisir. Puluhan peneliti dari bidang proteksi dan budi daya tanaman dilibatkan dalam upaya ini. Langkah itu didasari temuan bahwa 85 persen fungsi ekologis kehidupan berpusat di kawasan pesisir dan lautan—angka yang menunjukkan betapa strategisnya wilayah ini bagi keberlangsungan ekosistem global.

Dewa mengingatkan bahwa upaya penanaman bibit mangrove saja tidak memadai jika tidak disertai perawatan dan perlindungan yang konsisten dalam jangka panjang. Perubahan paradigma pelestarian lingkungan pesisir, dari sekadar seremonial tanam bibit menuju pengelolaan berkelanjutan, menjadi hal yang ia nilai mendesak untuk segera diwujudkan oleh masyarakat maupun berbagai pemangku kepentingan.

Tag: mangrove, ekosistem pesisir, biota laut, karbon biru, mitigasi bencana