Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

Phineas Gage: Pria yang Selamat dari Besi Menembus Kepala dan Mengubah Pemahaman Ilmu Saraf

2026-08-30 17:11 WIB · aindari

Kecelakaan kerja yang dialami Phineas Gage pada abad ke-19 menjadi titik balik dalam sejarah neurosains, membuktikan bahwa otak mengendalikan kepribadian dan perilaku manusia.

Pada pertengahan abad ke-19, seorang mandor konstruksi bernama Phineas Gage mengalami kecelakaan yang hampir mustahil untuk dilewati siapa pun — sebuah batang besi menembus tengkoraknya. Namun yang lebih mengejutkan dari keselamatannya adalah apa yang terjadi setelahnya: Gage berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda, dan perubahan itu memaksa dunia ilmu pengetahuan untuk memikirkan ulang cara kerja otak manusia.

Gage bekerja sebagai mandor di proyek pembangunan jalur kereta api di Vermont, Amerika Serikat. Saat sedang memadatkan bubuk mesiu ke dalam lubang batu menggunakan batang besi panjang, terjadi ledakan yang melontarkan batang besi tersebut menembus pipi kirinya, melewati bagian depan otaknya, dan keluar dari atas tengkoraknya. Meski mengalami cedera yang tampak fatal, Gage tetap sadar dan bahkan mampu berbicara sesaat setelah kejadian.

Dokter yang merawatnya, John Martyn Harlow, mencatat pemulihan fisik Gage dengan saksama. Secara jasmani, Gage pulih dengan mengagumkan. Namun orang-orang di sekitarnya segera menyadari sesuatu yang lebih dalam telah berubah. Gage yang sebelumnya dikenal sebagai pekerja yang bertanggung jawab, tenang, dan dihormati rekan-rekannya, kini menjadi sosok yang impulsif, kasar, dan tidak mampu menepati rencana. Rekan-rekannya menyebut ia bukan lagi Gage yang mereka kenal.

Perubahan drastis pada kepribadian Gage ini menjadi bukti pertama yang kuat bahwa bagian tertentu otak — khususnya lobus frontal — memiliki peran langsung dalam membentuk kepribadian, pengambilan keputusan, dan perilaku sosial seseorang. Sebelum kasus ini, banyak kalangan ilmiah maupun masyarakat umum yang memandang otak dan pikiran sebagai dua hal yang terpisah, dengan kepribadian dianggap berada di luar ranah fisik.

Kasus Gage membuka jalan bagi penelitian neurosains modern yang menghubungkan fungsi otak dengan identitas diri manusia. Jauh setelah kematiannya, para ilmuwan menggunakan tengkorak Gage — yang disimpan dan dipelajari hingga kini — untuk merekonstruksi jalur yang dilalui batang besi tersebut dengan teknologi pencitraan modern. Hasil rekonstruksi itu memperkuat kesimpulan bahwa kerusakan pada lobus frontal adalah penyebab perubahan perilakunya.

Warisan ilmiah Phineas Gage melampaui kisah hidupnya yang tragis. Ia menjadi fondasi awal dari pemahaman bahwa otak bukan sekadar organ biologis, melainkan pusat dari siapa kita sebenarnya — tempat kepribadian, empati, dan kesadaran diri berakar. Kasusnya terus dikutip dalam literatur neurosains, psikologi, dan filsafat pikiran hingga hari ini.

Tag: neurosains, Phineas Gage, otak, lobus frontal, sejarah sains