Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

Inovasi 'Ubi Bombing' untuk Karhutla: Antara Potensi Riset dan Bahaya Miskonsepsi

2026-08-29 17:03 WIB · aindari · 👁 624 dibaca

Bahan berbasis singkong sedang dikaji pemerintah sebagai alternatif pemadam karhutla, namun penelitian ilmiah menunjukkan pati singkong justru mudah terbakar dalam kondisi tertentu.

Sebuah inovasi berbahan dasar singkong menarik perhatian publik setelah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memaparkannya dalam rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan pada 24 Agustus 2026. Presiden Prabowo Subianto merespons dengan meminta inovasi tersebut dikembangkan dan diuji dalam skala yang lebih besar. Bahkan muncul istilah "ubi bombing" sebagai analogi dari metode waterbombing yang selama ini digunakan untuk memadamkan api dari udara. Pemerintah juga menugaskan BNPB dan BRIN untuk mengkaji kemungkinan penggunaan material yang lebih efektif dalam mencegah penyebaran api.

Dalam rapat tersebut, bahan berbasis tepung singkong disebut berpotensi memisahkan unsur-unsur yang mendukung proses pembakaran — yakni panas, oksigen, dan bahan bakar — sehingga dapat membantu menghambat penyebaran api pada tahap awal. Namun pemerintah sendiri menegaskan bahwa penelitian dan pengujian lebih lanjut masih diperlukan sebelum metode ini dapat diterapkan secara resmi.

Penting untuk memahami bahwa tepung singkong yang dimaksud bukan tepung dapur biasa. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Processes justru menemukan bahwa debu pati singkong memiliki potensi terbakar dan bahkan meledak dalam kondisi tertentu. Pengujian menggunakan perangkat berbentuk bola berkapasitas 20 liter menunjukkan bahwa konsentrasi debu sebesar 750 gram per meter kubik menghasilkan tekanan ledakan maksimum, dengan indeks ledakan mencapai 22,3 MPa·m/s. Artinya, pati singkong dalam bentuk serbuk justru bisa menjadi bahan berbahaya jika tidak ditangani dengan benar.

Adapun penelitian di IPB University pada 2024 memberikan gambaran yang lebih bernuansa. Dalam studi tersebut, bubuk kulit singkong diuji sebagai bahan komplementer dry chemical powder untuk alat pemadam api ringan (APAR). Campuran dua bagian bubuk kulit singkong dan satu bagian dry chemical powder berhasil memadamkan api dalam 15 detik. Namun ketika bubuk kulit singkong digunakan sendirian sebanyak 3 kilogram, api tidak berhasil dipadamkan bahkan setelah 95 detik dan seluruh isi APAR habis. Sebagai perbandingan, 3 kilogram dry chemical powder murni mampu memadamkan api hanya dalam 18 detik.

Hasil riset lain pada 2024 menguji penggunaan amonium fosfat untuk menekan karakteristik ledakan debu pati singkong, dan hasilnya menunjukkan penurunan tekanan ledakan serta penyebaran api. Temuan ini menggarisbawahi bahwa potensi pemadam api bukan berasal dari singkong semata, melainkan dari formulasi, bahan tambahan, konsentrasi, dan metode penggunaannya secara keseluruhan.

Dengan demikian, klaim bahwa "tepung singkong bisa memadamkan api" perlu dipahami secara hati-hati. Inovasi yang sedang dikembangkan pemerintah masih berada pada tahap riset dan pengujian, bukan teknologi yang siap menggantikan metode pemadaman yang ada. Masyarakat tidak dianjurkan menggunakan tepung singkong dari dapur untuk memadamkan kebakaran, karena selain tidak terbukti efektif, serbuk pati dalam kondisi tertentu justru dapat memperburuk situasi.

Tag: karhutla, inovasi pemadam api, tepung singkong, riset sains, BRIN