Dari Simpati ke Aksi: Gen Z Diajak Tanam Mangrove di Bali
2026-09-02 17:05 WIB · aindari · 👁 746 dibaca

Sebanyak 50 mahasiswa Universitas Udayana ikut menanam mangrove di Tahura Ngurah Rai, Bali, sebagai wujud nyata kepedulian lingkungan generasi muda.
Kepedulian terhadap lingkungan yang selama ini ramai diperbincangkan di media sosial kini ditantang untuk bergerak ke lapangan. Di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Bali, sebanyak 50 mahasiswa Universitas Udayana mengikuti kegiatan penanaman mangrove yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Rabu.
Pegiat lingkungan sekaligus representasi generasi muda, Ananda Priantara, hadir menyampaikan pesan kepada para peserta. Ia menegaskan bahwa Gen Z kerap salah dipahami — dicap sebagai generasi strawberry yang dianggap rapuh dan serba instan. Padahal, menurutnya, generasi ini justru memiliki kesadaran tinggi terhadap isu-isu lingkungan hidup.
Ananda mengutip data dari lembaga konsultasi internasional McKinsey yang menunjukkan bahwa 83 persen anak muda saat ini mempertimbangkan rekam jejak lingkungan sebuah perusahaan ketika menentukan jurusan studi maupun jalur karier mereka. Angka itu, katanya, membuktikan bahwa kepedulian Gen Z terhadap alam bukan sekadar tren, melainkan bagian dari cara mereka memandang masa depan.
Namun kesadaran saja belum cukup. Ananda membedakan antara simpati dan empati: simpati berhenti pada rasa kasihan, sementara empati mendorong seseorang untuk turun tangan secara langsung. Ia menyebut kolaborasi pentaheliks antara BLDF dan para akademisi Universitas Udayana sebagai contoh konkret bagaimana kepedulian itu bisa disalurkan ke dalam tindakan nyata yang berkelanjutan.
Bagi Ananda, menanam mangrove bukan sekadar menanam pohon. Ia berbagi pengalaman pribadinya lima tahun lalu saat pertama kali terlibat dalam kegiatan serupa, dan menyebutnya sebagai bentuk mitigasi sekaligus upaya membangun rasa memiliki terhadap alam. Ia mengaitkan semangat itu dengan filosofi Tri Hita Karana yang berakar dalam budaya Bali — sebuah nilai yang menurutnya harus dijalankan, bukan hanya dijadikan slogan. Dalam konteks lokal Bali, ia menggambarkan perasaan itu seperti konsep taksu, seolah sebagian dari diri seseorang ikut tertanam bersama bibit yang ditancapkan ke tanah.
Ananda berharap kegiatan ini melahirkan agen-agen perubahan dari kalangan mahasiswa dan peneliti muda. Ia meyakini bahwa tidak perlu ribuan orang untuk memulai — cukup satu hingga sepuluh individu yang bergerak lebih dulu, dan dampaknya bisa menjalar luas ke komunitas anak muda lainnya.
Tag: mangrove, Gen Z, lingkungan hidup, Bali, Djarum Foundation