BYD Bidik Perakitan Baterai dan TKDN 60 Persen Usai Pabrik Subang Beroperasi
2026-09-03 17:04 WIB · aindari · 👁 901 dibaca

Setelah meresmikan pabrik pertamanya di Subang, BYD Indonesia mengumumkan rencana manufaktur baterai dan menargetkan kandungan lokal 60 persen mulai Januari 2027.
Peresmian pabrik BYD di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat, bukan titik akhir ekspansi produsen kendaraan listrik asal Tiongkok itu di Indonesia. Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao menyatakan perusahaan sudah menyiapkan langkah investasi berikutnya, yakni kegiatan perakitan yang berkaitan dengan manufaktur baterai.
Menurut Eagle, sebuah produk tidak bisa disebut sepenuhnya buatan Indonesia tanpa proses produksi yang menyeluruh. Rencana perakitan baterai itu merupakan bagian dari strategi BYD untuk memperbesar Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam rantai produksinya di Indonesia.
BYD memasang target ambisius: TKDN sebesar 60 persen tercapai mulai Januari 2027. Eagle menegaskan perusahaan optimistis memenuhi angka tersebut berdasarkan persiapan yang tengah berjalan saat ini, dan menyebut BYD akan menjadi yang pertama memenuhi ambang batas TKDN 60 persen itu. Target ini relevan mengingat pemerintah sendiri tengah mengkaji insentif kendaraan listrik berbasis TKDN, bahkan Kementerian Perindustrian menargetkan TKDN kendaraan listrik mencapai 80 persen pada 2030.
Selain infrastruktur produksi, BYD juga berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal. Tahun lalu, ratusan teknisi dan insinyur Indonesia dikirim ke pusat riset dan pengembangan BYD di China untuk mempelajari teknologi terkini. Program serupa akan terus dilanjutkan. Saat ini lebih dari 5.000 tenaga kerja dalam negeri bekerja di fasilitas BYD, dan jumlah itu ditargetkan tumbuh hingga 20.000 orang ke depan.
Pengembangan talenta juga dilakukan melalui kemitraan dengan salah satu sekolah di Jawa Barat, di mana lulusannya mendapat kesempatan mengikuti pelatihan BYD. Proses rekrutmen dari jalur universitas pun sedang berjalan.
Pabrik Subang sendiri memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun dan saat ini memproduksi model BYD Atto 1, M6 EV, serta M6 DM. Ke depan, fasilitas ini juga akan memproduksi lini merek premium BYD, Denza. Pabrik tersebut tercatat menyerap sekitar 5.000 pekerja lokal sejak beroperasi.
Kehadiran pabrik BYD di Subang dengan demikian diarahkan melampaui fungsi produksi semata — menjadi simpul pengembangan kompetensi tenaga kerja, transfer teknologi, sekaligus fondasi ekosistem kendaraan listrik yang lebih dalam di Indonesia.
Tag: BYD, pabrik Subang, kendaraan listrik, TKDN, manufaktur baterai