Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Hiburan

Teater Besar TIM Jadi Venue Pertama di Indonesia yang Gunakan Teknologi Wireless Sennheiser Spectera

2026-09-03 17:08 WIB · aindari · 👁 668 dibaca

Sistem wireless generasi baru ini memangkas kebutuhan rak peralatan besar dan menyederhanakan koordinasi frekuensi di salah satu panggung pertunjukan paling bergengsi di Jakarta.

Teater Besar di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, mencatat sejarah baru dalam dunia audio pertunjukan Indonesia. Venue berkapasitas 1.200 penonton ini menjadi yang pertama di Tanah Air mengadopsi Sennheiser Spectera — platform yang diklaim sebagai ekosistem wideband bidirectional wireless pertama di dunia.

Sebagai panggung utama di TIM, Teater Besar menampung beragam jenis produksi: teater, musikal, konser, hingga pertunjukan budaya. Keberagaman itu menghadirkan tantangan teknis tersendiri, karena setiap produksi datang dengan tim, tata letak panggung, dan kebutuhan audio yang berbeda. Perjalanan menuju sistem ini dimulai sejak 2016, ketika venue mulai merencanakan migrasi dari sistem analog ke digital. Implementasi dilakukan pada 2018 dengan Albeta sebagai system integrator.

Namun seiring bertambahnya jumlah wireless microphone yang digunakan, persoalan baru muncul. Dwi Winarno, Technical Audio Specialist Teater Besar, menggambarkan bagaimana arsitektur konvensional satu perangkat per receiver membuat benturan frekuensi kerap terjadi saat 40 hingga 50 mikrofon beroperasi bersamaan. Kondisi itu memunculkan noise dan interferensi yang berpotensi mengganggu jalannya pertunjukan. Belum lagi, produksi berskala besar dengan 32 channel wireless membutuhkan rak peralatan berukuran besar serta waktu ekstra untuk persiapan dan instalasi.

Kebutuhan akan solusi yang lebih efisien mendorong Albeta memperkenalkan Spectera kepada tim Teater Besar. Yosafat, Direktur Albeta, mengakui bahwa saat pertama kali mempresentasikan sistem ini, ia belum pernah menyaksikannya bekerja dalam produksi live berskala besar — pengetahuannya masih bersandar pada presentasi produk dan diskusi dengan tim Sennheiser. Meski demikian, arsitektur Spectera yang ringkas langsung menarik perhatian dalam sesi demonstrasi. Dwi menyebutkan bahwa puluhan unit terpisah yang sebelumnya memenuhi rak besar kini bisa digantikan oleh satu unit kompak.

Sistem yang kini beroperasi di Teater Besar terdiri dari Sennheiser Spectera Base Station, dua antena DAD, 15 bidirectional bodypack, dan mikrofon headset Sennheiser HSP 4. Konfigurasi ini terutama melayani produksi teater dan musikal, sekaligus digunakan untuk acara korporat, talk show, dan diskusi panel. Sekitar 70 persen produksi di venue yang memerlukan sistem wireless kini berjalan di atas Spectera, dengan rata-rata sekitar 15 channel aktif per produksi. Sejak diterapkan, sistem ini telah mendukung delapan hingga sepuluh produksi.

Salah satu perubahan paling terasa ada pada pengelolaan frekuensi. Melalui Spectera WebUI, tim teknis dapat memantau aktivitas RF secara visual sebelum acara dimulai, mengidentifikasi frekuensi dengan tingkat interferensi lebih rendah, dan memilih opsi yang paling sesuai. Dwi menyebut kemampuan visualisasi ini sebagai lompatan besar dibanding kondisi sebelumnya, di mana kondisi RF sama sekali tidak bisa dipantau secara langsung. Efisiensi waktu dan ruang pun menjadi dampak nyata yang dirasakan tim sejak sistem baru ini berjalan.

Tag: Taman Ismail Marzuki, Sennheiser Spectera, Teater Besar, Teknologi Audio, Pertunjukan Seni