Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Lebih dari 1.280 Tewas Akibat Banjir Bandang Nepal-China, Ribuan Masih Hilang

2026-09-04 14:31 WIB · aindari · 👁 632 dibaca

Bencana banjir bandang yang dipicu pecahnya gletser di Gunung Langtang Lirung memasuki pekan kedua dengan korban jiwa dan orang hilang yang terus bertambah.

Bencana banjir bandang yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan China pada 26 Agustus lalu terus meninggalkan duka mendalam. Per Kamis (3/9), total korban tewas dari kedua negara mencapai 1.280 jiwa, sementara lebih dari 5.620 orang masih dinyatakan hilang dan operasi pencarian memasuki pekan keduanya.

Di Nepal, Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana mencatat 1.259 orang tewas dan 5.083 lainnya belum ditemukan. Dari jumlah yang hilang itu, 583 di antaranya merupakan warga negara asing. Pemerintah Nepal telah mengerahkan lebih dari 21.400 personel keamanan untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan di berbagai wilayah terdampak.

Sementara itu, China melaporkan 21 korban jiwa dan 541 orang hilang di sisinya, termasuk 261 warga asing. Bencana ini bermula ketika sebuah gletser di ketinggian 5.200 meter pada Gunung Langtang Lirung pecah, memicu longsor es dan bebatuan yang menyapu lembah-lembah di sepanjang perbatasan. Wilayah yang paling parah terdampak di Nepal meliputi distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre, termasuk Lembah Kathmandu, serta titik lintas batas Gyirong di Kawasan Otonom Xizang atau Tibet di sisi China.

Di tengah minimnya harapan menemukan jenazah, sejumlah keluarga korban di Rasuwa menggelar upacara pemakaman simbolis. Mereka membuat patung dari kaas-kush atau rumput suci sebagai pengganti jasad kerabat yang tak kunjung ditemukan, lalu melakukan ritual untuk membebaskan jiwa orang-orang yang mereka cintai. Pada Rabu (2/9), puluhan patung tersebut dikremasi dalam upacara massal di Kuil Pashupati Aryaghat di tepi Sungai Bagmati, Kathmandu. Di Chitwan, otoritas setempat mengambil langkah berbeda: membakar jasad-jasad tak dikenal setelah terlebih dahulu mengumpulkan sampel DNA, karena besarnya jumlah korban membuat proses identifikasi dan penyimpanan menjadi sangat sulit.

Kesulitan serupa dihadapi para penyintas yang kehilangan rumah dan seluruh harta benda mereka. Banyak yang tidak memiliki tempat layak untuk melangsungkan ritual pemakaman, baik di daerah asal yang porak-poranda maupun di Kathmandu tempat mereka mengungsi. Fasilitas publik di ibu kota pun tidak mencukupi untuk menampung kebutuhan mereka.

Di lapangan, tim gabungan militer, kepolisian, dan relawan terus berjuang melanjutkan operasi pencarian meski dihadang sejumlah hambatan serius. Akses jalan yang terputus, padamnya pasokan listrik, dan terganggunya jaringan komunikasi memperlambat upaya penyelamatan. Selain mencari korban, tim juga bertugas mendistribusikan bantuan kemanusiaan dan menjaga sanitasi di lokasi pengungsian guna mencegah meluasnya penyakit menular.

Tag: Nepal, China, banjir bandang, bencana alam, gletser