PBNU Desak Perbaikan Tata Kelola MBG Usai Ratusan Santri Keracunan di Sidoarjo
2026-09-05 17:12 WIB · aindari · 👁 1rb dibaca

Ketua Umum PBNU mendorong penguatan integritas pengelola program MBG, sementara Wakil Menteri Agama meminta investigasi atas insiden keracunan di Pondok Pesantren Manbaul Hikam.
Insiden keracunan makanan yang menimpa ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Sidoarjo, Jawa Timur, memicu respons dari berbagai pihak. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, menyatakan dukungannya terhadap evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar ke depan dikelola dengan standar integritas yang lebih tinggi.
Menurut Gus Kikin, akar persoalan terletak pada tanggung jawab masing-masing pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program. Ia menekankan bahwa setiap pengelola wajib mematuhi aturan yang berlaku dalam kegiatan mereka. Bila prinsip itu dipegang teguh, ia berharap kejadian serupa tidak akan terulang.
Meski demikian, Gus Kikin menilai insiden di Sidoarjo tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan program. Kasus keracunan itu, menurutnya, hanyalah satu dari sejumlah kejadian yang ada, sehingga perbaikan tata kelola harus berjalan bersamaan dengan keberlangsungan program. Praktik-praktik baik yang sudah berjalan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berhasil perlu dipertahankan dan diterapkan di lingkungan pesantren.
Dari sisi pemerintah, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii turun langsung menjenguk santri yang masih menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro, Sidoarjo, pada Jumat (4/9). Ia meminta agar dugaan keracunan ini diinvestigasi secara menyeluruh guna memastikan penyebab pastinya. Wamenag mencatat bahwa dapur yang menyuplai makanan ke pesantren tersebut telah beroperasi hampir satu tahun tanpa masalah berarti, sehingga perlu ditelusuri apa yang berubah hingga insiden ini terjadi.
Saat berkunjung, Wamenag mendapati delapan santri masih menjalani perawatan. Dari jumlah itu, lima orang sudah diizinkan pulang, sedangkan tiga lainnya masih membutuhkan penanganan medis. Keluhan yang dialami para santri umumnya berupa gangguan perut dan rasa mual, dan pihak rumah sakit menyatakan kondisi mereka tidak tergolong berat.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa perluasan program MBG ke lingkungan pesantren memerlukan pengawasan ketat di setiap rantai distribusi makanan. PBNU sendiri sebelumnya telah berkomitmen membangun seribu dapur SPPG untuk mendukung program ini, sekaligus meningkatkan kesadaran gizi di kalangan santri yang sebagian besar masih menghadapi masalah anemia.
Tag: MBG, PBNU, keracunan makanan, pesantren, Wakil Menteri Agama