Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

Ekspor CPO Tumbuh 5,49 Persen, Sawit Jadi Tulang Punggung Perdagangan Pertanian Indonesia

2026-09-07 06:07 WIB · aindari · 👁 936 dibaca

Kenaikan ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang Januari–Juli 2026 mencerminkan peran strategis komoditas sawit dalam mendorong kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.

Sektor pertanian Indonesia mencatat tren positif dalam perdagangan luar negeri sepanjang tujuh bulan pertama 2026. Ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) beserta produk turunannya tumbuh 5,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadikan komoditas ini salah satu penopang utama kinerja ekspor nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut angka pertumbuhan tersebut sebagai bukti bahwa komoditas pertanian memiliki peran yang tidak bisa diabaikan dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan besar sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia, dan modal itu harus dimanfaatkan secara optimal—bukan sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan mendorong hilirisasi agar nilai tambah yang dihasilkan semakin besar.

Kinerja ekspor sawit ini sejalan dengan penguatan ekspor nonmigas Indonesia secara keseluruhan. Secara kumulatif, ekspor nonmigas mencapai 160,01 miliar dolar AS pada Januari–Juli 2026, naik 5,21 persen dari periode yang sama tahun lalu. Total nilai ekspor Indonesia dalam periode tersebut tercatat 167,03 miliar dolar AS atau tumbuh 4,43 persen. Kelompok lemak dan minyak hewani/nabati—yang mencakup produk berbasis sawit—masuk dalam daftar komoditas pendorong ekspor nonmigas. Di sisi industri, sektor pengolahan berbasis sawit juga tumbuh 7,16 persen selama Januari–Juli 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa kenaikan harga komoditas global turut mendukung kinerja ekspor ini. Pada Juli 2026, harga komoditas di pasar internasional secara umum meningkat secara tahunan, termasuk pada kelompok pertanian, energi, logam mulia, serta logam dan mineral. Dalam kelompok pertanian, minyak sawit menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga paling signifikan.

Tiongkok tetap menjadi salah satu pasar tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia. Sepanjang Januari–Juli 2026, ekspor nonmigas ke negara itu mencapai 40,62 miliar dolar AS, melonjak 18,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produk minyak sawit turut berkontribusi dalam arus perdagangan tersebut.

Amran menegaskan bahwa pertumbuhan ekspor harus berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas di sisi hulu dan penguatan industri pengolahan di sisi hilir. Pemerintah, kata dia, terus mendorong peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, serta pengembangan industri pengolahan hasil pertanian. Tujuannya agar Indonesia tidak hanya kuat sebagai negara produsen, tetapi juga semakin kompetitif sebagai eksportir produk bernilai tambah.

Yang menjadi perhatian utama Amran adalah memastikan manfaat dari pertumbuhan ekspor ini benar-benar sampai ke tingkat petani dan pekebun. Penguatan rantai nilai dari hulu hingga hilir, menurutnya, merupakan kunci agar ekspor pertanian tidak hanya mendongkrak angka perdagangan nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan mereka yang menggarap lahan.

Tag: CPO, ekspor sawit, hilirisasi pertanian, perdagangan nonmigas, Kementan